Hak Pilih Terabaikan, Mahasiswa Golput

         Pesta demokrasi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) serentak dilaksanakan kamis (4/6) di kampus I, II, III dan V. Ada 5 TPS (Tempat Pemungutan Suara) bertempat di kampus III untuk mahasiswa Fakultas Farmasi, FTI (Fakultas Teknologi Industri ), FMIPA  (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) dan Jurusan Pendidikan MIPA dari FKIP (Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan). Kesuksesan Pemilwa dilihat dari keikutsertaan mahasiswa dalam menggunakan hak pilihnya. Dalam penggunaannya, mahasiswa harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh KPUM (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa). Prosedur tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Pemilwa 2015. Mahasiswa yang menggunakan hak pilih harus menunjukan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) atau kartu anggota perpustakaan. Apabila mahasiswa tidak membawa keduanya, persyaratan lainnya menggunakan bukti pembayaran pada semester genap 2014/2015. Namun, jika mahasiswa tidak membawa salah satu dari ketiga persyaratan tersebut maka mahasiswa tidak bisa memilih atau dapat dikatakan Golput. “ngga bisa mbak karena prosedurnya seperti itu.” Terang Raden Roro selaku sekretaris PPS (Panitia Pemungutan Suara) di TPS 8, FTI.

      Persyaratan tersebut cukup mengecewakan beberapa mahasiswa yang sudah antusias dalam pemilwa ini, namun tidak dapat menggunakan hak pilihnya hanya karena lupa membawa satu dari tiga persyaratan yang telah ditentukan. “Seharusnya kalo ngga bawa, dikasih kesempatan buat milih kan kita juga mau ngasih suara buat yang lain,” Ungkap Nirmala, mahasiswi FTI saat diwawancarai poros setelah kembali dari TPS 8. Kekecewaan itu tidak hanya dirasakan oleh Nirmala saja. Hal serupa juga dirasakan oleh Ari, salah satu mahasiswa FMIPA. Ia merasa kecewa tidak dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilwa tahun ini. “ya satu suara itu kan sangat menentukan, jadi ya kecewa (tidak bisa milih-Red),” Jelas Ari.

       Ketidakikutsertaan mahasiswa dalam memilih  dikarenakan sosialisasi yang terlalu singkat. “Sosialisasi persyaratan sebenarnya sudah sejak kemarin (Rabu-Red), Cuma kan hari selasanya libur, hari rabunya kami fokus pada logistik dan lain-lain. Jadi kan mepet waktu juga,” Jelas Immadurohim selaku ketua KPUM UAD 2015.

        Hasil rekapitulasi pemilwa pada TPS di kampus III yaitu TPS FMIPA sebanyak 177 dari 416 mahasiswa yang menggunakan hak pilih. Pada TPS  FTI sebanyak 181 dari 1555 mahasiswa yang menggunakan hak pilih. Pada TPS  Fakultas Farmasi, mahasiswa yang memilih sebanyak 179 dari 989. TPS JP MIPA sebanyak 223 dari 1794 mahasiswa yang menggunakan hak pilih sedangkan TPS FKM 347 mahasiswa dari 1102 mahasiswa.

        Berkaitan dengan hasil rekapitulasi yang Poros dapatkan, terlihat bahwa FKM memiliki total mahasiswa menggunakan hak pilih paling banyak daripada Fakultas lain yang berada di kampus III. Menurut Novitarsa Djafar ketua PPS di TPS FKM, pihak fakultas mendukung dengan adanya pemilwa ini. “Jadi kalau mereka kuliah syaratnya harus mencoblos dulu dengan membawa bukti (menunjukkan cap jari warna biru-Red),” Jelas Djafar. Dukungan dalam bentuk menambahkan syarat membawa bukti telah mengikuti pencoblosan pemilwa itu merupakan inisiatif dari pihak fakutas sendiri. “Itu inisiatif dari fakultas itu sendiri untuk menyukseskan pemilwa ini. Agar mahasiswa itu tidak apatis,” Tambahnya. Menurut Immadurohim, hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi KPUM untuk pemilwa mendatang. (Silvi, Azizah)

Pengetahuan Tentang Partai Rendah, Minat Untuk Memilih Tinggi

yuuuuuuuu

        Setelah gagal dalam beberapa tahun terakhir, Pemilwa kini akan dilaksanakan pada 4 Juni 2015. Semenjak dilantik pada 29 April lalu, KPUM baru mensosialisasikan perihal Pemilwa pada  tanggal 4 Mei setelah 2 hari menyusun program kerjanya. Hingga hari ini berarti persiapan KPUM terhitung  1 bulan untuk menyelenggarakan Pemilwa. Di tengah semangat kampanye dua kandidat, Litbang Poros melakukan penelitian Tanggal 1-3 Juni 2015 guna mencari tahu tingkat pengetahuan mahasiswa UAD tentang partai mahasiswa serta minat mahasiswa dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilwa yang akan dilaksanakan hari ini.

        Penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling dengan 300 sampel yang tersebar di 10 fakultas. Berdasarkan hasil yang Poros dapat, sebanyak 58,67% dari 300 sampel tidak mengetahui adanya partai mahasiswa di UAD. Sebesar 55,67% tidak mengetahui jumlah partai mahasiswa yang akan mengikuti Pemilwa tahun ini. Meskipun persentase tingkat ketidaktahuan mahasiswa terhadap partai tinggi, namun sebanyak 76% menjawab akan menggunakan hak pilih mereka pada Pemilwa nanti. Persentase 76% menunjukan bahwasannya mahasiswa sadar akan hak pilih yang harus digunakan. Namun melihat persentase sebelumnya, minimnya pengetahuan terhadap partai mahasiswa menjadi evaluasi besar bagi semua pihak yang berwenang untuk memaksimalkan sosialisasi. Hal ini untuk mengantisipasi agar mahasiswa tidak memilih dalam gelap. (LITBANG)

Ada Yang Coblos, Ada Yang Golput

Mahasiswa sedang melakukan pencoblosan di salah satu TPS kampus II UAD. Dok. Poros

Mahasiswa sedang melakukan pencoblosan di salah satu TPS kampus II UAD. Dok. Poros

        Dari depan kampus I UAD terlihat kegiatan kampus berjalan seperti biasanya, yang sedikit berbeda hanyalah pohon-pohon depan kampus yang dipangkas beberapa hari lalu. Kegiatan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) periode 2015/2016 pun berjalan lancar, di hall masih terlihat seperti hari-hari biasanya. Slogan “Tentukan Pilihanmu di 4 Juni 2015” di dinding-dinding kampus menjadi sebab green hall berbeda dari hari biasanya. 3 TPS (Tempat Pemungutan Suara) menduduki tempat yang biasanya hanya ramai jika ada kegiatan mahasiswa maupun kampus. 3 TPS di kampus I untuk mahasiswa Fakultas Psikologi, Ekonomi dan FTDI (Fakultas Tarbiyah Dirasat Islamiyah). Meskipun berada di tempat yang sama, kondisi tiap-tiap TPS berbeda. Sekitar pukul 12.00 WIB tidak ada antrian mahasiswa yang panjang di TPS FTDI. Sama halnya dengan TPS Fakultas Psikologi, namun berbeda dengan Fakultas Ekonomi ada beberapa mahasiswa yang melakukan antrian untuk melakukan pencoblosan.

       “Sebenarnya kan ngga ada yang kenal, jujur. Tapi cuma baca visi-misinya aja.” Begitulah jawaban Anung mahasiswi kampus I saat diwawancarai Poros setelah melakukan pencoblosan di salah satu TPS kampus I. Anung mengatakan telah mendapatkan informasi terkait Pemilwa sekitar 2 minggu yang lalu melalui media sosial dan organisasi yang ia geluti. Meski demikian menurutnya sosialisasi untuk mahasiswa masih kurang terlebih mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi. “Tapi menurut saya pemilihan yang ini kurang (sosialisasi-Red), mungkin yang tahu cuma yang tertentu aja ngga semuanya tahu. Masih banyak yang Golput soalnya.” Ia mengatakan ada beberapa temannya yang memilih Golput karena tidak mengetahui kedua pasang calon yang diusung Partai Pergerakan Mahasiswa dan Partai Mahasiswa Reformasi.

       Anung mengakui ia hanya setengah hati dalam pencoblosan yang ia lakukan sekitar pukul 12.05 WIB . Hal ini terjadi karena ia merasa belum mendapatkan informasi secara lengkap tentang kedua pasangan calon. Meskipun demikian Anung memutuskan untuk tetap menggunakan hak pilihnya dalam Pemilwa, dengan hanya membaca visi dan misi dari kedua pasangan calon.

        Kinerja pemerintahan mahasiswa periode 2014-2015 pun menjadi salah satu faktor mahasiswa memilih untuk Golput. Pasalnya mahasiswa tidak merasakan kinerja pemerintahan mahasiswa sesuai dengan pembagian kerja yang telah dilakukan. Khanzha mahasiswi kampus I memilih Golput dalam pemilwa hari ini. Ia mengatakan baru mengetahui perihal Pemilwa di hari kemarin (3 Juni) namun ini bukanlah faktor ia memilih Golput. “Saya ngga milih karena saya aja ngga merasakan kontribusi dari presiden mahasiswa sebelumnya. Ini kan regenerasi , jadi saya rasa untuk apa milih, ke mahasiswa aja ngga kena.” Khanza saat ditemui Poros sedang berada di depan salah satu TPS kampus I.

       Menurutnya sosialisasi Pemilwa sangatlah kurang, ia menambahkan bahwa sosialisasi sangatlah penting baik sebelum maupun sesudah pemerintahan bekerja. “Soalnya mereka presiden mahasiswa untuk menaungi mahasiswa kan, jadi ada aspirasi apapun itu diterima,” ungkap mahasiswi yang telah mengikuti perkuliahan selama 2 semester ini. “Jadi saya rasa pilih dan ngga sama aja.” Khanza mengakui saat ini ia sedang tidak mengikuti organisasi apapun di kampus, namun ia berencana untuk mengikuti salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di tahun depan.

       Sosialisasi terkait visi dan misi dari kedua pasangan calon memang sangatlah penting. Terlebih dari masing-masing partai yang mengusung calonnya. Litbang Poros mencatat sebanyak 58,67% dari 300 sampel yang tidak mengetahui keberadaan partai mahasiswa di kampus. Abdul Fadlil, Wakil Rektor III UAD saat ditemui Poros diruangannya mengatakan hal ini menjadi catatan penting bersama bahwa keberadaan partai mahasiswa sangatlah penting untuk dirasakan oleh mahasiswa. Menurutnya jika mahasiswa telah mengetahui aspirasinya akan masuk ke partai mana, tentunya pilihan akan jatuh ke partai tersebut. Abdul Fadlil mengatakan kedepannya harus ada proses pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa dalam berpolitik secara benar. Ia menambahkan jika mahasiswa menentukan pilihannya berdasarkan apa yang ia amati, “Ini menunjukan bahwa mahasiswa kita cerdas.”

      Wakil Rektor yang menaungi bidang kemahasiswaan ini mengatakan, kinerja pemerintahan mahasiswa yang belum dirasakan oleh mahasiswa kemungkinan merupakan dampak dari keputusan aklamasi di tahun sebelumnya. Melihat Pemilwa yang berakhir dengan pencoblosan ini ia berharap presiden yang benar-benar dipilih oleh mahasiswa ini nantinya memberikan kekuatan semangat untuk menjalankan program yang lebih baik lagi. “Harapannya lebih bisa menggerakan dinamika mahasiswa dalam berkegiatan utamanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya non akademik.” (Fara)

H-1 Pemilwa, Mahasiswa Bingung Memilih Siapa dan Partai Apa

Nabila Dwi Melatisari, Mahasiswa  Ilmu Komunikasi.

Ketua KPUM: Kami Akan Mengevaluasi Apa-Apa Saja Yang Perlu Diperbaiki

(25/5), Ella Yussy Dwi Astuti, Capres kandidat No 2 sedang menjawab pertanyaan dari kandidat No 1. Dok. Poros

(25/5), Ella Yussy Dwi Astuti, Capres kandidat nomor urut 2 saat menjawab pertanyaan dari kandidat nomor urut 1. Dok. Poros

        Senin, (25/5) KPUM (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa) melaksanakan Debat Capres (Calon presiden) dan Cawapres (Calon wakil presiden) mahasiswa di Green Hall Kampus III UAD (Universitas Ahmad Dahlan). Kegiatan yang seharusnya menjadi ajang mahasiswa untuk mengetahui seluk-beluk mengenai orang tertinggi di Pemerintahan Mahasiswa. Namun ini ditanggapi lesu, terlihat dari sedikitnya mahasiswa yang ikut andil dalam acara yang diadakan setahun sekali ini. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang bergantian melihat dari lantai-lantai gedung perkuliahan. Tak hanya itu, sedikitnya kursi yang disediakan oleh pihak panitia seolah menjelaskan bahwa panitia hanya mampu menampung sedikit mahasiswa. Padahal kampus III terdiri atas mahasiswa dari 5 fakultas, yakni FTI (Fakultas Teknik Informatika), Farmasi, FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat), FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dan FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam).

        Minimnya minat mahasiswa untuk berpartisipasi tak lain karena kurangnya sosialisasi dari KPUM. “Kami sudah mensosialisasikannya kepada mahasiswa lewat media sosial, jadi itu kembali lagi ke mahasiswa. Lewat pamflet, lewat banner juga. Jadi intinya, kami dari KPUM sudah menyediakan wadah kepada mahasiswa, dimana mahasiswa mengetahui iniloh calon presiden dan wakil presiden,” papar Imad sapaan akrab Ketua KPUM 2015.

        Acara yang berlangsung dari pukul 9 pagi ini dihadiri sekitar 30 simpatisan. Berbagai perangkat penyemangat diusung oleh simpatisan. Riuh tepuk tangan menjadi pembuka ataupun penutup dari setiap kandidat yang telah selesai bicara. Tidak ada kesempatan yang diberikan oleh panitia untuk mahasiswa bertanya, “itu mungkin masukan untuk KPU nanti. Benar dikatakan calon nomor pertama, bahwasannya presiden ada untuk mahasiswa. Seharusnya mahasiswa sebagai audience (penonton debat-red) diberi kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan bisa menjadi bagian untuk menyampaikan unek-unek baik ke kandidat nomor urut satu ataupun dua,” ungkap Ulfa Istiqomah Rosadi mahasiswa Psikologi. Disisi lain, Imaddurohim selaku Ketua KPUM UAD 2015 mengatakan “Kami akan mengevaluasi apa-apa saja yang perlu ditambahkan atau apa-apa saja yang perlu diperbaiki (konsep debat-red),” jelasnya.

        Acara ini akan kembali dilangsungkan pada Rabu (27/5) di Hall Kampus I serta Kamis (28/5) di Hall Kampus II pukul 08.00 sampai dengan 11.00 WIB. Banyak harapan dari acara yang hanya berlangsung beberapa jam ini, salah satunya diungkapkan oleh Fasta mahasiswa Teknik Elekro 2011, ia berharap semoga presiden yang nantinya terpilih ikut merubah doktrin mahasiswa yang tadinya tidak aktif menjadi aktif. “Suasana kampus III ini nampak individual memang, tak lain karena kurangnya taman ataupun tempat untuk berdikskusi mahasiswa,” tambahnya. Ditemui seusai acara debat selesai, Ulfa mahasiswa yang datang dari Kampus I ini pun berharap siapapun presiden terpilih yang penting dapat merealisasikan visi misi dan program yang telah dipaparkan. Jangan sampai membawa kepentingan pribadi atau golongan. Namun mereka membawa dan berjuang atas nama Mahasiswa. (Nurul)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,156 other followers