Lomba Esai Foto Se-Yogyakarta

Tema : Kehidupan Desa di Yogyakarta

Jadwal pelaksanaan lomba:

  • Pendaftaran : 24 April – 19 Mei 2015
  • Pengumpulan Esai Foto : 19 Mei 2015 (melalui email atau langsung datang ke Sekretariat UKM Pers Mahasiswa POROS sampai jam 00.00 WIB)
  • Seleksi pemenang : 20 – 22 Mei 2015
  • Pengumuman pemenang & Penyerahan hadiah : 23 Mei 2015 pada malam puncak POROS FESTIVAL di Hall Kampus 2 UAD Jalan Pramuka No.52 Umbulharjo

Syarat dan Ketentuan Lomba:

  1. Peserta lomba merupakan perseorangan, mahasiswa aktif di Perguruan Tinggi di Yogyakarta (Bukti dengan menunjukan scan atau foto copy KTM), mengirimkan sms konfirmasi keikutsertaan dengan format :                     Lomba Esai Foto(spasi)Nama kirim ke no 089601685018 (Rosyid)
  2. Esai Foto berseri minimal 5, maksimal 8 dilengkapi keterangan foto (caption), narasi dan judul Esai Foto.
  3. Karya foto yang diikutkan lomba adalah karya asli, bukan milik orang lain, tidak direkayasa, dan belum dipublikasikan dan diikutkan lomba serupa di media apapun.
  4. Apabila ada pelanggaran, karya akan di diskualifikasi.
  5. Mengisi formulir yang sudah disediakan, unduh disini
  6. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 25.000 langsung datang ke Sekretariat UKM Pers Mahasiswa POROS UAD Gedung ITC Lantai 1, Jalan Kapas No.9 Semaki Umbulharjo.
  7. Peserta diperbolehkan menggunakan kamera digital merk dan tipe apa saja, kecuali Smartphone.
  8. Editing hanya diperbolehkan untuk edit basic (crop dan pencahayaan).
  9. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 karya terbaiknya.
  10. Foto menjadi hak milik panitia, namun hak cipta tetap pada fotografer.
  11. Panitia berhak mempublikasikan hasil foto.
  12. Esai Foto dikumpulkan dalam softcopy atau media CD, melalui email : poros_uad@yahoo.co.id dengan subyek : Lomba Esai Foto_Nama atau langsung datang ke Sekretariat UKM Pers Mahasiswa POROS UAD Gedung IT Center Lantai 1, Jalan Kapas No.9 Semaki Umbulharjo.
  13. Peserta yang dinyatakan masuk nominasi 10 besar harus menyerahkan file HD asli kepada panitia (maks 80 MB) datang langsung ke Sekretariat UKM POROS UAD untuk dipamerkan pada 23 Mei 2015
  14. Tidak diperbolehkan menuliskan gambar, tulisan, simbol pada foto.
  15. Teknis dan visualisasi bebas, original, tidak melanggar hak cipta dan menyinggung SARA.
  16. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah:

Juara 1 : Uang pembinaan + sertifikat + bingkisan

Juara 2 : Uang pembinaan + sertifikat + bingkisan

Juara 3 : Uang pembinaan + sertifikat + bingkisan

Contact person:

089601685018 (Rosyid)

atau cek di @porosUAD

Perspektif feminisme

Kasus-kasus yang belakangan ini menyita perhatian publik tak lepas dari pelanggaran hak asasi manusia dan tindak kriminalitas yang berujung pada pelecehan seksual. Dalam hal ini, perempuan dijadikan sebagai target utama dikarenakan memiliki alat reproduksi yang fungsinya sangat vital, bahkan dijadikan alat dalam pemanfaatan situasi tindak kriminalitas maupun pada saat kondisi konflik dan perang.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Maria Margaretha Hartiningsih, salah seorang wartawan senior harian KOMPAS dalam “Workshop Peliputan Jurnalis Perempuan: Meliput Konflik dan Bencana” bahwasannya perempuan, anak-anak dan orangtua yang sangat rawan dalam situasi konflik dan perang.

Disisi lain, jika dikaitkan dengan konteks hukum di Indonesia sudah jelas dikatakan semua warga negara Indonesia tidak memandang laki-laki dan perempuan adalah sama dihadapan hukum, dan dalam kewarganegaraan pun keduanya memiliki hak dan kewajiban yang selaras.

Posisi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sudah semakin nampak, seperti dalam kegiatan kemasyarakatan. Misalnya, dengan mengadakan agenda dimasjid untuk mengisi pentingnya memahami hukum diluar negera lain ketika sudah menginjakkan kaki di negeri orang bagi para TKW (tenaga kerja Wanita). Dalam hal perpolitikan pun sudah semakin mencuat, diawali dengan beberapa politisi akademisi yang menduduki beberapa kekuasaan didalamnya. Serta kondisi belakangan ini yang membahas kasus “Penolakan pembangunan pabrik semen” pun yang menggerakan masa atau melakukan aksi ialah barisan perempuan.

Namun dalam hal ini, melihat kondisi pelecehan seksual terhadap perempuan kian meningkat, kredibilitas kesetaraan gender hanya nampak bagi yang tengah memiliki jabatan semata, sedangkan perempuan-perempuan yang berada pada status sosial rendah tidak menuup kemungkinan akan berdampak pada kondisi psikologisnya yaitu rasa takut, ketidakberdayaan bahkan hanya menerima, terlebih dalam situasi konflik dan perang.

Maria yang seorang wartawan senior harian kompas ini pun mengisahkan kasus di Aceh pada saat konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pada saat itu posisi perempuan sangat dikesampingkan, seperti contohnya dalam kegiatan musyawarah untuk menghasilkan kebijakan tidak ada seorang perempuan pun yang diikutsertakan. Hal ini karena perempuan masih sangat dipandang dengan kelemahannya semata. Tati

Intoleransi di Yogyakarta Kian marak, Masyarakat Penting Paham Toleransi

diskusi

Antusias mahasiswa saat mengikuti Diskusi (16/3) di Gedung PKM FIS UNY

Maraknya gerakan Intolerasi antar umat beragama di Yogyakarta menjadikan kota ini sebagai satu tempat yang kini menjadi banyak perhatian. Kota yang keberagamannya dirasa baik- baik saja bahkan diagungkan. Hal tersebut terlihat ketika tahun lalu, disudut- sudut kota Jogja terpampang jelas banner yang bertulis pelarangan terhadap satu “Keyakinan” umat beragama.

Berdasarkan catatan KontraS, ada perubahan signifikan dari Yogyakarta. Riset 2007, menyatakan Jawa Barat tercatat sebagai daerah zona merah khususnya berkaitan dengan toleransi antar umat beragama. Tetapi 2014 ada lonjakan drastis, zona merah beralih ke Yogyakarta. “Dimana Jawa barat yang awalnya merah menjadi kurang merah, Yogyakarta awalnya yang belum merah jadi merah” terang Satrio Wirataru selaku Divisi Advokasi Hak Sipil dan Politik KontraS saat memaparkan Diskusi Publik yang berlangsung di Gedung PKM FIS UNY (16/3).

Wirataru juga mengungkapkan bahwa ada dua zona merah intoleransi antar umat beragama yang posisinya saat ini perlu diantisipasi, mengingat kebebasan beragama dan berkeyakinan dilindungi oleh Undang Undang Dasar 1945, “ada dua lokasi yang menjadi zona merah intoleransi beragama, Jawa Barat dan Yogyakarta,” ungkapnya.

Banyak yang menduga, Yogyakarta dimanfaatkan segelintir orang untuk mengusik keyakinan dan kebebasan beragama. Lahirnya beberapa organisasi masyarakat (Ormas) yang mengatasnamakan sentiment agama diyakini menjadi salah satu biang dalam gerakan intoleransi tersebut. “Ada kelompok intoleransi yang memanfaatkan toleransi masyarakat Jogjakarta untuk menanamkan intoleransi kepada masyarakat,” ungkap Halili Hasan pembicara yang juga selaku Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UNY.

Ia juga mengatakan, intoleransi secara kasat mata memang tidak terlihat jelas di Kota Pelajar. Namun, jika dilihat dengan analisis serta pola permainan yang dilakukan oleh kelompok tersebut, jelas sekali ada masalah yang cukup serius di Yogyakarta. ”Masalahnya serius, Jogja sebenarnya reproduksi intoleransi secara diam- diam, kalau dipermukaan tak ada yang berani melakukannya,” terangnya.

Dalam pemaparannya kembali, ia menilai Yogyakarta sangat rentan akan kejadian intoleransi. Selain karena aspek ketidaktahuan masyarakat, gerakan intoleransi kelompok tertentu perlu diwaspadai, mengingat ada cara tertentu yang dilakukan beberapa kelompok dalam menggerakan. ”Mereka main perang halus,” tambahnya.

Halili yang juga mengajar di prodi PKn menyarankan supaya Pemerintah harus mampu memainkan peran untuk menciptakan perdamaian serta perlindungan terhadap masyarakat yang mengalami intoleransi. ”Toleransi di Jogja berada dalam kerentanan, mestinya pemerintah pusat memainkan peran untuk menciptakan ketertiban,” imbuhnya.

Disisi lain Wirataru pula menyarankan tak hanya negara yang perlu dilibatkan dalam mengupayakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Namun masyarakat sipil juga perlu dibekali pemahaman akan pentingnya toleransi. Selain memberikan penyadaran, hal tersebut dirasa mampu menangkal intolerasi yang kian marak saat ini.

Jika hal tersebut sudah mampu dipahami tentu tidak akan terjadi Intolerasi, ”kita mulai memperkuat warga sipil untuk menangkal agar tidak meningkat,” terangnya saat diwawancara seusai diskusi kemarin. (Somad)

Deklarasi Pekalongan; Upaya Penyelamatan PPMI Nasional

banner-ppmi

Pekalongan, (POROS) Telah dilaksanakan Forum Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Mizan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan. Acara ini berlangsung dua hari, terhitung dari 20 sampai 21 Februari. Dalam pertemuan tersebut, dihadiri oleh perwakilan Kota Malang (Canopy), Jember (LPMS IDEAS, UPM Millenium, UPM Explant, LPM Aktualita), Kota Jogja (LPM Poros dan LPM Himmah), Kota Semarang (LPM Wartadinus), Pekalongan (LPM Al-Mizan dan LPM Panji Sedayu), Surabaya (LPM Solidaritas). Setelah melalui diskusi yang panjang, forum ini menghasilkan keputusan dan Deklarasi Pekalongan.

Pertama, secara garis besar struktur pengurus atau bagan PPMI Nasional tetap seperti sebelum kongres terakhir di Mataram tahun 2014. Akan tetapi Dewan Etik Nasional (DEN) dihapuskan. Hal ini didasari atas kesamaan program dan wewenang DEN dengan fungsi Badan Pengurus Nasional (BPN) Advokasi.

Kedua, pembentukan enam Presidium yang sementara akan menggantikan tugas dan wewenang Pengurus PPMI Nasional yang kemudian disebut dengan Deklarasi Pekalongan. Alasan pembentukan presidium, karena sudah banyak PPMI Kota atau Dewan Kota yang terpengaruh dengan tidak jelasnya Pengurus PPMI Nasional.Khawatir adanya kondisi stagnan dan kematian serentak. Sementara untuk mengatasi hal ini, akan dibentuk Koordinator Wilayah (korwil) harapannya ada pemantapan antar wilayah dengan kultur yang tak berjarak terlalu jauh, sebagai penguatan sebelum KLB.

Enam presidium terpilih, yaitu: Achmad Ismail (mantan Sekjen Pertama PPMI Kota Pekalongan), Muchlis Choirul Anwar (sedang menjadi DEN utusan PPMI Dewan Kota Yogyakarta), Abdus Somad (Sekjen PPMI Dewan Kota Yogyakarta), Dieqy Hasbi Widhana (Mantan BPK Litbang dan Advokasi PPMI Kota Jember), Eka Puspa Sari (Mantan BPK PPMI Kota Banjarmasin) dan I Wayan Widyantara (Mantan Sekjen PPMI Kota Bali).

Presidium diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Malang maksimal pada bulan April 2015. Setelah KLB berakhir, maka dinyatakan tugas dari Presidium PPMI akan purna (berakhir-red). (Nurul)

Mahasiswa UAD Menuntut, Rektorat Menanggapi Positif

(26/02) Bukti masa aksi mendukung tuntutan dengan cara menandatangani bentangan kain putih di depan hall kampus I UAD.

(26/02) Bukti masa aksi mendukung tuntutan dengan cara menandatangani bentangan kain putih di depan hall kampus I UAD.

Aliansi Mahasiswa UAD Menggugat turun kejalan untuk menuntut fasilitas perkuliahan (26/2) kemarin. Mereka menuntut beberapa kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa. Satu persatu perwakilan organisasi BEM, DPM, HMPS berorasi menuntut perbaikan kebijakan kampus. “Sudah sepantasnya kita bergerak atas nama mahasiswa, kita disini merupakan mahasiswa yang terdidik, menuntut segala bentuk penindasan, karena itu kita disini menggugat, kita akan terus berada disini sampai tuntutan kita diterima,” teriak Rio Pamungkas dalam orasinya yang juga menjabat sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU).

Teriakan massa aksi kian keras, mereka menginginkan supaya pihak rektorat segera turun menemui mereka. “Rektorat turun.. rektorat turun.. rektorat turun..,” teriak massa aksi. Tak berselang lama pihak rektorat diwakili oleh Abdul Fadlil selaku Wakil Rektor III yang membidangi kemahasiswaan turun menghampiri massa aksi yang sudah tak sabar ingin bertemu, “ya ini mau menemui perwakilan mahasiswa, diatas pak Rektor sudah menunggu,” terang Fadlil saat berada dikerumunan massa aksi.

Ia juga mengatakan akan menemui perwakilan mahasiswa yang dipercaya oleh massa aksi untuk melakukan audiensi. Pertemuan pun dilakukan di Gedung Laboratorium Program Studi (Prodi) Ekonomi yang berada dilantai dua kampus I UAD. ”Ya nanti kita akan bicara (audiensi-Red) di Gedung Laboratorium Ekonomi,” ungkapnya. (Somad)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,116 other followers