pena poros online

23 December 2007

Teknik Wawancara dan Menulis Berita

Filed under: teknik penulisan — penaonline @ 12:47 am

Teknik Wawancara dan Menulis Berita [1]

Oleh : Mulyadi [2]

Yang dimaksud berita dari segi pendekatan jurnalistik  ialah peristiwa yang telah dimuat dalam suatu media cetak, atau disiarkan lewat radio atau televisi.

Mengapa orang membaca berita? Tentu bukan sekedar ingin mengisi waktu luang. Orang membaca berita karena ingin mengetahui perkembangan situasi lingkungan sekitarya.

Kriteria Kelayakan Berita

Apakah semua peristiwa layak dijadikan berita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi berita, antara lain:

1.      Penting. Pengesahan RUU Sisdiknas adalah penting, karena menyangkut kepentingan rakyat banyak, yang menjadi pembaca media bersangkutan. Maka layak jadi berita. Ini juga relatif tergantung dari khalayak pembaca yang dituju. Isu Amien Rais menjadi calon presiden tentu penting untuk dimuat di Harian Republika, tetapi kurang penting dimuat di Majalah Gadis, karena khalayak pembacanya berbeda.

2.      Baru terjadi, bukan peristiwa lama. Peristiwa yang telah terjadi pada 10 tahun yang lalu jelas tidak bisa jadi berita.

3.      Unik, bukan sesuatu yang biasa. Seorang mahasiswa yang kuliah tiap hari adalah peristiwa biasa. Tetapi jika mahasiswa berkelahi dengan dosen di dalam ruang kuliah, itu luar biasa.

4.      Asas keterkenalan. Kalau mobil anda ditabrak mobil lain, tidak pantas jadi berita. Tetapi kalau mobil yang ditumpangi putri Diana ditabrak mobil lain, itu jadi berita dunia.

5.      Asas kedekatan. Asas kedekatan ini bisa diukur secara geografis maupun kedekatan emosial. Banjir di Cina yang telah menghanyutkan ratusan orang, masih kalah nilai beritanya dibandingkan banjir yang melanda Jakarta, karena lebih dekat dengan kita.

6.      Magnitude (dampak dari suatu peristiwa). Demonstrasi yang dilakukan oleh 10.000 mahasiswa tentu lebih besar magnitudenya dibanding demonstrasi oleh 100 mahasiswa.

7.      Trend. Sesuatu bisa menjadi berita ketika menjadi kecenderungan yang meluas dimasyarakat. Misalnya, sekarang orang mudah marah dan mudah membunuh pelaku kejahatan kecil (pencuri, pencopet) dengan cara dibakar hidup-hidup.

Teknik Wawancara

Berita sebagai produk jurnalistik hanya bisa lahir dari fakta-fakta yang ada di masyarakat. Dan di balik fakta-fakta itu tentu ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus mampu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara.

Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah barang tentu memerlukan berbagai sentuhan  teknik dalam aplikasinya. Dan berbicara ikhwal teknik wawancara, tentu saja kita  akan berhadapan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga fleksibel. Artinya, teknik wawancara itu bukan merupakan sesuatu yang musti baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang  secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, para jurnalis juga dituntuk untuk senantiasa memberdayakan diri sesuai tuntutan jaman.

Terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita, hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Dan sekali lagi, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik.

Namun, Wartawan tidak boleh mengabaikan anatomi persoalan yang terkait dengan temuan fakta-fakta tersebut di lapangan. Dan untuk persoalan-persoalan tertentu, Wartawan wajib  memetakannya. Penyiapan anatomi  persoalan itu bahkan merupakan langkah awal sebelum berlangsungnya sebuah wawancara. Bermutu tidaknya sebuah wawancara, biasanya justru lebih banyak ditentukan oleh hal  tersebut. Misalnya, seorang Wartawan  ingin mengetahui secara detail tentang posisi, peran dan sumbangan intelektual dalam mendorong demokrasi  di Indonesia, maka Wartawan harus mampu menggambarkan  bagaimana kaum intelektual Indonesia mengembangkan wacana yang beragam atas wacana  resmi  Orde Baru di sekitar tema-tema pokok “Pembangunan”, “Dwi fungsi”, “Demokrasi Pancasila”,”Persatuan dan kesatuan” serta  “Sara”. Itu yang penting !.

Dari sana akan bisa dibuat kategori-kategori  intelektual Indonesia. Dan mungkin saja akan segera terpetakan adanya  intelektual  ortodoks, revisionis dan mungkin oposisionis. Secara demikian, setidaknya telah tercipta sarana pemahaman baru yang lebih memadai tentang intelektual Indonesia.

Untuk sampai pada pemahaman itu, seorang Wartawan harus memiliki referensi cukup tentang berbagai bidang yang diminati. Jadi, wawancara seorang jurnalis hanya akan sukses dan bermutu, manakala ia telah memiliki kesiapan seperti dimaksud. Namun, yang justru tampak rumit,  adalah aktifitas di balik teknik wawancara itu.

Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.

1.            Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware  yang diperlukan.

2.            Teknik substansial – teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.

Itulah pentingnya seorang Wartawan menguasai materi yang hendak diwawancarakannya terhadap narasumber. Hanya dengan cara seperti itu, ia mampu memperoleh informasi banyak dan akurat serta signifikan.

Konkritnya, beberapa hal dibawah ini bolehlah dianggap sebagai tip untuk menunjang suksesnya sebuah wawancara.

1.            Wartawan harus memakai kalimat tanya yang bisa membuahkan jawaban obyektif.

2.            Pertanyaan harus selalu diusahakan dengan menggunakan kalimat pendek dan mudah dimengerti.

3.            Tidak boleh segan-segan mengajukan pertanyaan ulang atas hal-hal yang belum jelas untuk dimengerti.

4.            Tahu momentum yang tepat. Juga tahu apa yang layak dan tidak layak untuk ditanyakan, sekaligus cara bertanya yang pas.

5.            Jauhi pertanyaan yang bernada menggurui.

6.            Hindari gaya interogasi.

7.            Hindari pertanyaan yang sifatnya mencari legitimasi dari frame pemikiran  yang sebetulnya sudah dimiliki.

8.            Hindari pertanyaan yang bersifat menguji nara sumber.

9.            Tumbuhkan sifat empaty dalam wawancara.

10.        Untuk hal-hal yang spesifik, wartawan perlu terlebih dahulu memaparkan persoalan yang hendak dimintakan pendapat dari nara sumber.

11.        Hindari kalimat tanya yang bersifat mengadu domba.

12.        Buat pertanyaan yang mampu menggugah daya nalar, ingatan serta perspektif  nara sumber.

Ke dua belas tips itu, mungkin akan menjadi jaminan suksesnya sebuah wawancara. Tetapi, mungkin juga takkan berguna apa-apa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan jurnalistik individu yang mengoperasikannya. Karena itu pula, seorang jurnalis ”haram” mendatangi nara sumber dengan kepala kosong.

Persiapan Wawancara

Ada beberapa persiapan yang harus anda lakukan sebelum melakukan wawancara, diantaranya:

  1. Penentuan tema. Mengapa suatu tema harus diangkat? Kenapa harus sekarang? Pertama-tama tanyakan pada diri anda sendiri – mengapa kasus dibawakan sekarang? Dari awal harus sudah jelas peran apa yang akan anda bawakan – informasi apa yang anda mau dari narasumber, apakah perspektifnya, dimana mereka akan anda posisikan.
  2. menentukan Angle. Angle atau sudut pandang sebuah berita ini dibikin untuk membantu tulisan supaya terfokus. Kita tidak mungkin menulis seluruh laporan tentang apa yang kita lihat, atau menulis seluruh uraian yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan yang tidak terfokus hanyalah akan membingungkan pembaca. Untk mebentukan angle salah satu cara yang termudah adalah membuat sebuah [pertanyaan tunggal tentang apa yang mau kita tulis. Jawaban pertanyaan tidak boleh melebar kemana-mana. Hal-hal yang tidak relevan dengan angle sebaiknya tidak ditanyakan. Jika ada informasi lain yang disampaikan maka bisa dibuat judul lain. Atau informasi yang sangat penting tersebut tidak cukup untuk dibuat dalam berita tersendiri, maka bikinlah sub judul.
  3. Susunlah outline. Agar memudahkan dalam wawancara maka sebaiknya anda menyusun kerangka berita (outline) atau istilah yang lebih lazim flowchart. Outline berisi antara lain:
    1. Tema berita
    2. Angle
    3. Latar belakang masalah
    4. Narasumber
    5. Daftar pertanyaan 

 Mengumpulkan Informasi dengan Tepat

Ketidak akuratan (kesalahan) dalam pemberitaan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian (kesembronoan) yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis berita. Kemudian ia salah menuliskan nara sumber berita.

Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta:

  1. Bila anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakan informasi yang anda peroleh (tangkap) sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam berita, namun reporter harus mengetahuinya untuk mengadakan kontak dengan sumber berita tersebut.
  2. Bila informasi nara sumber anda peroleh dari tangan kedua, harap dicek pada sumber berita untuk membetulkannya.
  3. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa bahwa anda mengetahui semuanya. Anda selalu harus mengecek ulang setiap informasi yang penting.
  4. Bila tulisan anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah dulu bahwa anda mengetahui hal itu.

Umumnya seorang wartawan mengambil peranan sebagai seorang pembaca kebanyakan, dan megajukan pertanyaan sesuai dengan posisi itu.

  1. Bila menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya dan menghitung. Banyak wartawan yang berdalih bermacam-macam bila seorag pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan.

Statistik harus dicermati benar dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara anda menyajikannya dan apa saja yang anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.

Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk menipu masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal it terjadi.

 

Teknik Penulisan Berita

Setelah mendapat informasi dari lapangan, maka tugas reporter selanjutnya adalah menyampaikan informasi tersebut kepada pembaca secara cepat, jelas, dan akurat.

Unsur-Unsur Suatu Berita

Berita yang baik umumnya harus memenuhi unsur: 5 W + 1 H

Yakni: (Who, What, Where, When, Why) + How

Atau : (Siapa, Apa, Dimana, Kapan, Mengapa) + Bagaimana

Kriteria Khusus:

  1. kebijakan redaksional/misi media. Masing-masing media memiliki kebijakan redaksional dan misi yang berbeda.
  2. Pendekatan keamanan (ancaman pembredelan, dan sebagainya). Berita yang mengkritik keras korupsi dan kolusi antara penguasa dan pengusaha bisa berujung pada pembredelan atau teguran terhadap media yang bersangkutan. Atau bisa memakan korban wartawan media itu sendiri, seperti kasus yang menyebabkan terbunuhnya wartwan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin.
  3. kepekaan masyarakat pembaca dan kemungkinan dampak negatif berita terhadap pembaca. Misalnya untuk isu-isu yang menyangkut SARA (suku, Agama, Ras, dan antar golongan). Atau bisa menyinggung perasaan atau martabat pembaca.

Beberapa Macam Berita:

Dari segi sifatnya, kita kenal dua macam: Hard News dan Soft News.

Hard News/Straight News:  berita yang lugas, singkat, langsung kepokok persoalan dan fakta-faktanya. Biasanyaharus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-cepat dimuat, karena terlamba sedikit bisa basi. Istilah Hard News lebih mengacu pada isi berita, sedangkan istilah Straight News lebih mengacu pada cara penulisannya (struktur penulisanya).

Soft News: beritayang dari segi struktur penulisannya relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat. Soft news umumnyatidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat khususnya dalam soal waktunya. Misalnya tulisan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi rakyat kecil akibat krisis ekonomi. Selama krisis ekonomi masih berlanjut, berita itu bisa diturunkan kapan saja. Biasanya lebih banyak mengangkat aspek kemanusiaan (human interest).

Dari segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua: News Features dan Feature. Feature adalah teknik penulisan yang khas berbentuk luwes, tahan lama, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya megangkat aspek kemanusiaan. Pada hakekatnya penulisan feature adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, ia menghidupkan imajinasi pembaca, ia menarik pembaca kedalam cerita dengan mengidentififkasikan diri dengan tokoh utama. Panjang tulisan feature bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik.

Sedangkan News Feature adalah Feature yang mengandung unsur berita. Misalnya tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan Tommy Suharto oleh polisi, yang diawali dengan penyadapan telepon dengan bantuan Roy Suryo seorang pakar Multimedia dan Komunikasi, pembongkaran ruang bawah tanah, sampai proses tertangkapnya disajikan secara seru, menarik, dan dramatis. Seperti menonton film saja.

Struktur Penulisan Berita

Hard news/straight news biasanya ditulis dalam bentuk struktur “piramida terbalik” yakni inti berita ditulis pada bagian paling awal, dan hal-hal yang tidak penting ditulis belakangan.

Soft news, News Feature dan Feature ditulis dengan gaya yang tidak kaku. Hal-hal yang penting bisa ditulis di bagian awal, namun juga tidak mutlak. Yang pening tetap menarik untuk dibaca. Lebih jauh mengenai teknik penulisan Feature akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Penulisan Judul

Judul merupakan inti dari teras berita. Judul harus jelas, mudah dimengerti dengan sekali baca dan menarik, sehingga mendorong pembaca untuk mengetahui lebih lanjut isi tulisan. Selain itu judul juga harus menggigit, perlu kejelasan makna asosiatif setiap unsur Subyek, Obyek, dan Keterangan.

Panjang judul maksimal dua baris terdiri atas empat hingga enam kata. Bila panjang judul satu baris, maksimal terdiri atas lima kata. Untuk judul berita utama maksimal lima kata.

Semua kata di dalam judul dimulai dengan huruf besar, kecuali kata sambung seperti dan, di, yang, bila, dalam, pada, oleh, dan kata tugas lainnya yang ditentukan redaksi.

Penulisan judul tidak boleh dimulai dengan angka. Hindari penggunaan singkatan yang tidak populer. Judul bersifat tenang dan tidak bombastis.

 


[1] Disampaikan dalam pembekalan anggota baru LIM Persma UAD di kampus I pada tanggal 21 Juni 2003

[2] Pimpinan Umum LIM Persma UAD periode 2002-2003

INVESTIGATIVE REPORTING, WAWANCARA DAN TEKNIK PENGOPERASIANNYA

Filed under: teknik penulisan — penaonline @ 12:38 am

 INVESTIGATIVE REPORTING, WAWANCARA DAN  TEKNIK  PENGOPERASIANNYA *

Oleh : Drs. Sumanto   **

 INVESTIGASI itu jelas, tidak akan menjadi “isme” tersendiri. Ia hanyalah varian dari teknik jurnalistik. Dan di kalangan Reporter media massa menyebut teknik tersebut dengan istilah Investigative Reporting (IR). Dari beragam model perburuan informasi, teknik itu merupakan salah satu cara terbaik. Dengan Investigative Reporting (IR) itu pula hak ingin  tahu (right to know) masyarakat yang merupakan first amandement Duham (Declaration Universal of Human Right) relatif terhindar dari distorsi.

Sebagai karya jurnalistik, ia relatif[1]lebih mampu memaparkan persoalan ataupun kasus secara lebih detail dibandingkan dengan teknik jurnalistik lainnya. Setidaknya sampai saat ini. Jika kita tengok sejenak ke belakang, kelahiran Investigative Reporting (IR) memang dilatar belakangi oleh kasus mengenaskan yang menimpa seorang Wartawan. Adalah Donald Bolles seorang Wartawan Arizona Report yang meninggal dunia akibat ledakan bom   mobil miliknya.

Peristiwa tragis itu terjadi pada tahun 1976 pada saat sang Wartawan menunaikan tugas profesinya. Dan belakangan diketahui bahwa si pemasang bom itu adalah pihak yang merasa dirugikan oleh  pemberitaannya tentang hubungan antara kejahatan terorganisir dengan pacuan anjing di Arizona, Amerika Serikat (AS).

Kematian Donald Bolles itulah yang kemudian mendorong tumbuhnya Investigative Reporting and Editors Inc. (IRE). Ia merupakan gugus tugas relawan Wartawan yang pergi ke Arizona guna menyelesaikan serangkaian tulisan yang dikerjakan Donald Bolles almarhum dan sekaligus menunjukkan kepada khalayak bahwa Reporter tidak bisa di intimidasi.

Jika kalimat tanya tentang apakah persoalan-persoalan realitas sosial masyarakat bisa dilacak dengan melakukan Investigative Reporting (IR) atau menurut para calon reporter ini melalui jurnalisme investigasi?. Untuk mengemukakan jawaban akurat dari pertanyaan tersebut, penting untuk kita ketahui cara kerja dan prosedur serta metode pengorganisasian Investigative Reporting (IR).

 

Sebagai ilustrasi, baiklah kita paparkan nukilan berita dibawah ini :

“Sebuah Plaza di kawasan Mangga Besar, Jakarta, pagi dini hari tadi, ludes dilalap si jago merah. Kerugian materiil ditaksir sekitar milyaran rupiah, kata Slompret Singarajadikala pemilik Plaza kepada Investigasi Reporting (IR) yang mewawancarainya, siang tadi. Peristiwa tragis itu menelan korban puluhan orang. Berdasarkan pengamatan Investigasi Reporting (IR) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), puluhan korban itu sampai  berita ini disajikan, masih tergeletak di kamar mayat.  Para korban itu belum bisa diketahui identitasnya. Padahal menurut Sarjono yang merupakan salah seorang Satpam yang bertugas sehari sebelumnya, tidak biasa Plaza tersebut dipenuhi banyak orang pada dini hari. “Seumur-umur belum pernah plaza itu  dikunjungi banyak orang  di dinihari buta  seperti itu”, paparnya dengan  nada keheranan.

Mencermati peristiwa semacam itu, seorang Reporter yang akan melakukan Investigative Repoting, perlu menyiapkan dan merancang beberapa hal sebagai berikut :

1.            Mengapa terjadi kebakaran ? dan kenapa  pada dini hari ?.

2.            Dari mana asal api ?

3.            Siapa pemilik plaza itu ?

4.            Bagaimana dengan ijin-ijinnya ?

5.            Menghubungi saksi-saksi (key person, stake holder)

6.            Bagaimana sistem pengamanannya ?

7.            Mengapa masih ada puluhan orang di plaza pada dini hari ?

8.            Menghubungi beberapa orang yang berada di tempat-tempat yang tidak umum (kampung preman misalnya).

 

Sebagai bahan baku pertanyaan dan persoalan disiapkan, barulah investigasi dimulai dengan :

1.            Berusaha mendapatkan dokumen-dokumen

2.            Melakukan interview dengan sebanyak-banyaknya orang

3.            Membuka internet, email ataupun database yang ada di worldwide web, termasuk news groups.

 

Dalam memilih dokumen-dokumen, seorang Reporter juga harus mampu memilih dan memilah antara dokumen-dokumen yang ditemukan, yakni :

1.            Dokumen yang sudah dipublikasikan

2.            Dokumen yang belum pernah dipublikasikan.

 

Public Documents itu meliputi :

1.            Catatan perusahaan

2.Catatan perumahan

3.Catatan pengadilan

4.Catatan anggaran

5.Catatan keuangan

6.Kontrak-kontrak

7.Catatan kampanye dan Pemilu.

8.      Catatan Asuransi

 

Hal lain yang musti didapat Reporter adalah sebagai berikut :

1.      Sumber-sumber sekunder

2.      Dokumen-dokumen primer

3.      Sumber-sumber yang tepat

4.      Subyek.

Untuk mendapatkan sumber-sumber sekunder, seorang Reporter bisa menelusuri buku-buku yang terpublikasi, laporan-laporan, artikel dan lain-lain. Dan untuk sumber-sumber primer, bisa dicari pada dokumen-dokumen yang tidak dipublikasikan.

 

Jadi untuk sumber-sumber sekunder bisa juga dicaari melalui :

1.            Koran-koran atau penerbitan lain

2.            Laporan perusahaan

3.            Direktori-direktori atau buku-buku tahunan

4.            Riwayat hidup dan garis keturunan

5.            Komentar dari aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

6.            Adakah perusahaan itu juga menjadi penyumbang dana bagi kepentingan sosial.

 

Lebih lanjut, dokumen-dokumen publik bisa didapat melalui penelusuran terhadap :

1.      Ijin dan lisensi yang dimiliki

2.      Hubungan perusahaan dengan para Legislatif

3.      Catatan-catatan tentang kelahiran, kematian, dan perkawinan.

 

Untuk mendapatkan dokumen-dokumen yang tidak dipublikasikan seorang Reporter harus :

1.      Melakukan investigative files

2.      Cari laporan-laporan intelijen

3.      Catatan-catatan tentang perbankkan

4.      Penghasilan bersih perusahaan

5.      Mengusut kredit yang diperolehnya

6.      Catatan-catatan medis pemiliknya.

 

Tidak hanya sampai disitu saja Investigasi Reporting (IR) dilakukan, melainkan tetap harus dicari narasumber yang pas dari kalangan :

1.      Orang-orang yang ahli di bidangnya

2.      Aparat keamanan (polisis / militer)

3.      Kantor-kantor atau pejabat pemerintah

4.      Para pengacara

5.      Musuh-musuhnya

6.      Teman-temannya

7.      Korban atau pihak yang  dikalahkan

8.      Calon musuh dan calon teman

9.      Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

10.  Wartawan

11.  Pekerja sosial, relawan-relawan sosial keagamaan dan para eksekutif di bidang bisnis.

 

Semua itu merupakan jejak langkah dalam proses pekerjaan Investigative Reporting (IR). Karenanya seorang Reporter dituntut untuk senantiasa siap secara fisik dan psikis. Kalau seluruh proses itu sudah dilakukan dan di dapat oleh Reporter, maka jelas tidak perlu lagi seorang Reporter mendatangi acara konferensi pers.

Sebab jelas sangat sulit untuk sekedar berpikir ikhwal keuntungan apapun yang dapat diberikan oleh konferensi pers bagi reporter berita yang kompeten. Konferensi pers itu hanya mengembangkan ungkapan peristiwa semu (peristiwa yang direncanakan untuk menciptakan liputan berita dimana tak satupun dianggap terjamin ).

Karenanya, tidak ada kata lain yang lebih pas untuk para Wartawan yang melakukan Investigative Reporting (IR). Kecuali, segera temukan faktanya, pahami maksudnya, dan lakukan hal itu tanpa menunda waktu. Pas dengan amar Islam, “ La tuakhir ‘amalil yauma lighodin” (janganlah kamu sekalian suka menunda-nunda pekerjaan untuk hari esok).

 

Teknik wawancara

 

Elemen yang  tak mungkin  terpisahkan dengan  terciptanya sebuah produk jurnalistik, tidak lain adalah wawancara. Sedemikian signifikan sebuah wawanncara dalam aktifitas jurnalistik, maka siapapun yang  akan menjalankan tugas jurnalistik wajib melakukannya.

Sebab, produk jurnalistik memang hanya bisa lahir dari fakta-fakta yang ada di masyarakat. Dan di balik fakta-fakta itu tentulah ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus memapu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara.

Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah barangtentu memerlukan berbagai sentuhan  teknik dalam aplikasinya. Dan berbicara ikhwal teknik wawancara, tentu saja kita  akan berhadapan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga fleksibel. Artinya, teknik wawancara itu bukan merupakan sesuatu yang musti baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang  secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, para jurnalis juga dituntuk untuk senantiasa memberdayakan diri  sesuai tuntutan jaman.

Terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita, hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Dan sekali lagi, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai  hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik.

Namun begitu, Wartawan tidak boleh mengabaikan anatomi persoalan yang terkait dengan temuan fakta-fakta tersebut di lapangan. Dan untuk persoalan-persoalan tertentu, Wartawan wajib  memetakannya. Penyiapan anatomi  persoalan itu bahkan merupakan langkah awal sebelum berlangsungnya sebuah wawancara. Bermutu tidaknya sebuah wawancara, biasanya justru lebih banyak ditentukan oleh hal  tersebut. Misalnya, seorang Wartawan  ingin mengetahui secara detail tentang posisi, peran dan sumbangan intelektual dalam mendorong demokrasi  di Indonesia, maka Wartawan harus mampu menggambarkan  bagaimana kaum intelektual Indonesia mengembangkan wacana yang beragam atas wacana  resmi  Orde Baru di sekitar tema-tema pokok “Pembangunan”, Dwi fungsi, “Demokrasi Pancasila”,”Persatuan dan kesatuan” serta  “Sara”. Itu yang penting !.

Dari sana akan bisa dibuat kategori-kategori  intelektual Indonesia. Dan mungkin saja akan segera terpetakan adanya  intelektual  ortodoks,revisionis dan mungkin oposisionis. Secara demikian, setidaknya telah tercipta sarana pemahaman baru yang lebih memadai tentang intelektual Indonesia.

Untuk sampai pada pemahaman itu, seorang Wartawan harus memiliki referensi cukup tentang berbagai bidang yang diminati. Jadi, wawancara seorang jurnalis hanya akan sukses dan bermutu, manakala ia telah memiliki kesiapan seperti dimaksud. Namun, yang justru tampak rumit,  adalah aktifitas di balik teknik wawancara itu.

Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.

1.      Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware  yang diperlukan.

2.      Teknik substansial–teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara.

Itulah pentingnya seorang Wartawan menguasai materi yang hendak diwawancarakannya terhadap nara sumber. Hanya dengan cara seperti itu, ia mampu memperoleh informasi banyak dan akurat serta signifikan.

Konkritnya, beberapa hal dibawah ini bolehlah dianggap sebagai tip untuk menunjang suksesnya sebuah wawancara.

1.      Wartawan harus memakai kalimat tanya yang bisa membuahkan jawaban obyektif.

2.      Pertanyaan harus selalu diusahakan dengan menggunakan kalimat pendek dan mudah dimengerti.

3.      Tidak boleh segan-segan mengajukan pertanyaan ulang atas hal-hal yang belum jelas untuk dimengerti.

4.      Tahu momentum yang tepat. Juga tahu apa yang layak dan tidak layak untuk ditanyakan, sekaligus cara bertanya yang pas.

5.      Jauhi pertanyaan yang bernada menggurui.

6.      Hindari gaya interogasi.

7.      Hindari pertanyaan yang sifatnya mencari legitimasi dari frame pemikiran  yang sebetulnya sudah dimiliki.

8.      Hindari pertanyaan yang bersifat menguji nara sumber.

9.      Tumbuhkan sifat empaty dalam wawancara.

10.  Untuk hal-hal yang spesifik, wartawan perlu terlebih dahulu memaparkan persoalan yang hendak dimintakan pendapat dari nara sumber.

11.  Hindari kalimat tanya yang bersifat mengadu domba.

12.  Buat pertanyaan yang mampu menggugah daya nalar, ingatan serta perspektif  nara sumber.

Ke dua belas tips itu, mungkin akan menjadi jaminan suksesnya sebuah wawancara. Tetapi, mungkin juga takkan berguna apa-apa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan jurnalistik individu yang mengoperasikannya. Karena itu pula, seorang jurnalis ”haram” mendatangi nara sumber dengan kepela kosong.

 

Yogyakarta, 16 Maret 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




*   Makalah ini sekedar merupakan pengantar diskusi di forum Diklat Jurnalistik, se Jawa – Bali,di Hotel Melati Jl.Pakel Baru No 34. Yogyakarta, Minggu 16 Maret 2003.

**   Wartawan  Majalah FORUM .

Tulisan yang hidup adalah senjata penting

Filed under: teknik penulisan — penaonline @ 12:33 am

SEPERTI TARIAN BURUNG CAMAR
Farid Gaban

Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persai0ngan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa — personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas.

Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok. Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.

 
TUJUH ELEMEN

Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.

Informasi
Adalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. ”Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,” kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat — bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.

Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Fokus
Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ”Less is more,” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.
”Don’t write about Man, write about a man,” kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.

Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.

Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa — trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan — dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.

Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.

”Don’t say the old lady screamed — bring her on and let her scream,” kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.

Bentuk
Tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan –sekaligus — mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.

 Suara
Kita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.

Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.

TULISAN YANG MEMBLE : TUJUH KEGAGALAN

·         Gagal menekankan segala yang penting — seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.

·         Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.

·    Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.

·         Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik — organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.

· Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.

·  Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.

·      Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik — dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah — jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.

 

 

Next Page »

Blog at WordPress.com.