pena poros online

11 May 2008

Optimalkan Pengamanan Kampus

Filed under: suara mahasiswa — penaonline @ 1:08 am

Optimalkan Pengamanan Kampus

Saya melihat tentang nasib Satpam UAD yang cukup ironis saat diadakan rapat karyawan Satpam yang juga merupakan karyawan Universitas Ahmad Dahlan tidak mendapatkan konsumsi, sedangkan jika UKM mengadakan rapat atau pertemuan sebagai tanda terima kasih memberikan konsumsi sekedarnya, ini sebenarnya bagaimana dengan nasib Satpam universitas? dan juga tentang masalah keamanan UAD kenapa dengan dana UAD yang banyak tidak bisa menyisihkan sedikit untuk membeli kamera pengintai sehingga keamanan dapat terjamin serta terpantau?

Putra [Psikologi]

Jawaban

Rektor Drs. Kasiyarno, M.Hum menjawab dalam pertemuan karyawan rutin memang tidak ada anggaran untuk konsumsi satpam kecuali acara yang besar atau tidak rutin, tetapi kalau mahasiswa ingin memberi “monggo” sedangkan untuk kamera pengintai biayanya sangat mahal, tetapi itu mungkin termasuk dalam pengajuan proposal tentang cyber campus yang telah kami ajukan atau bisa dibilang full of IT.

23 February 2008

Bayarkah Lihat KHS?

Filed under: suara mahasiswa — penaonline @ 8:44 am

Bayarkah Lihat KHS?

Benar bila dikatakan bahwa abad ini mendominasinya kapitalisme, sampai-sampai mahasiswa harus bayar mengambil Kartu Hasil Studinya (KHS). Bahkan hanya sekedar untuk melihat sekalipun. Itu terjadi jika ia kehilangan KHS yang telah diberikan pada setiap akhir semester. Penting jika nilai-nilai hasil studi itu tersedia dalam website BAA, sehingga lebih memudahkan mahasiswa untuk mengetahuinya, yang terkadang mahasiswa sendiri lupa dengan nilai atau mata kuliah yang telah diambilnya ketika mengisi KRS.

Oleh karena itu, mohon perhatiannya kepada yang berwenang, demi kemudahan pelayanan kepada kami, mahasiswa. Dan terimakasih atas perhatiannya.

Dina, Mahasiswa FKIP

Ribetnya Pelayanan di UAD

Filed under: suara mahasiswa — penaonline @ 8:43 am

Ribetnya Pelayanan di UAD

Ini yang dari dulu saya keluhkan, kenapa KRS harus manual, padahal sudah on line? Bukankah ini dua kali kerja bahkan juga tidak efektif.  Prosedur ini yang mestinya tidak perlu. Teman saya dari Universitas swasta di DIY (bukan bermaksud untuk membandingkan) mengomentari saya, dan ia bilang “kok jadul banget sih!.” Apalagi kalau pembayaran, kenapa harus di bank kampus, padahal di luar juga sama banknya. Ini untuk menghindari antrian dan berdesak-desakkan mahasiswa yang melupakan jenis kelaminnya.

Maklum saya masih tahun pertama di kampus ‘orange’ ini, jadi saya berharap pihak kampus memperhatikannya.

Ony, Mahasiswa Fakultas Sastra

Next Page »

Blog at WordPress.com.