pena poros online

11 May 2008

Retaknya KMB UAD

Filed under: catatan redaksi — penaonline @ 1:13 am

Retaknya KMB UAD

Akankah Kekeluargaan Kita Hilang?

Alhamdulilah puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmatnya yang tercurahkan kepada kita semua sehingga kita di sini masih mampu menjalankan kinerja untuk penerbitan bulletin bulan ini walaupun banyak kendala yang kami hadapi tapi itu tidak membuat surut semangat dan perjuangan kami untuk berkreasi.

Dalam edisi bulan ini, kita akan membahas tentang berbagai kontraversi dan polemik ynag masih terjadi tentang pesta akbar mahasiswa ini. Mulai dari masalah Badan Eksekutif Mahasiswa sendiri telah membuat undang undang untuk Pemilwa atau pemilihan umum mahasiswa, BEM U yang telah melanggar AD/ART KBM pada pasal 24 tentang tentang keanggotaan DPM yang terdiri hanya dari partai mahasiswa Bertentangan dengan AD/ART KBM yang menuai kontraversi dari pihak FORBES yang menaungi UKM-UKM. Dan mulailah KBM terpecah akibat kepentingan golongan. Menanggapi hal ini presiden BEM U, Aziz Amri, pengganti Aji AF yang telah wisuda Desember lalu, menyangkal kalau telah melanggar AD/ART, karena dirinya merasa tidak tahu-menahu tentang AD/ART dan KMB. Sedangkan Wakil Rektor III menambahkan, pokoknya kita harus sukseskan Pemilwa. Terkait dengan pasal tentang keanggotaan DPM, Pak Muchlas mengatakan, bahwa UKM/LIM harus fokus pada prestasi minat dan bakat, bukan pada ranah pilitik. Alasan ini pula diamini oleh BEM UAD, selain untuk mengoptimalkan kinerja wakil mahasiswa dari partai.

Dengan begitu aturan baru ini mengabaikan kepentingan wakil mahasiswa dari fakultas dan jurusan (daerah) dan UKM/LIM (golongan), sebagaimana dalam AD/ART. Yang paling aneh, keputusan ini bukan dalam konggres mahasiswa. Ini pula yang disesalkan oleh sebagian anggota FORBES, namun bagaimanapun itu kita juga berpikir dan bersikap realitis. Inilah realitanya. Ke depan semoga ini bisa diperbaiki bersama.

Pemilwa tahun ini merupakan suatu polemik yang serius untuk dikaji mendalam karena KBM yang telah tertera di AD/ART merupakan suatu kesatuan bagi mahasiswa yang berada dalam lingkungan UAD.Tetapi sangat disayangkan sekali perasaan untuk membangun dan mengembangkan kekeluargaan sesama mahasiswa sekarang mulai pudar akibat kepentingan golongan tertentu.

Akankah kita hidup tanpa mengenal satu sama lain? tanpa peduli satu sama lain. kita berjalan tanpa ada rasa membantu sesama. polemik yang tidak dilakukan dengan jalan dialog atau diplomasi inilah yang akan menghancurkan mahasiswa. Pemilwa yang sangat diharapkan berjalan sukses akankah sukses dengan agenda yang akan mewujudkan aspirasi mahasiswa seluruhnya di UAD sedangkan nanti yang akan ada di dalam elemen KBM kita akan terpisah dan orang yang akan duduk di lembaga pemerintahan mahasiswa adalah orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan golongannya semata dan hanya untuk berkuasa. Semoga itu tidak terjadi. Siapa pun yang akan duduk di lembaga pemerintahan mahasiswa nanti bisa melihat realita sosial lebih mendalam dan mampu menyalurkan aspirasi semua mahasiswa. Amiin

Buletin ini sangat banyak kekurangannya, kritik dan saran senantiasa kami terima untuk membangun kemajuan bersama. Akhir kata, untuk semua pembaca, kami haturkan: selamat membaca!

Salam Redaksi

23 December 2007

catatan ke 23

Filed under: catatan redaksi — penaonline @ 5:57 am

Sungguh Ironi

Alhamdulillah, hanya lafadz suci itulah yang patut kami panjatkan atas kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kekuatan kepada kami sehingga di penghujung akhir tahun ini kami masih bisa berkreasi dengan perjuangan tinta pena untuk menerbitkan buletin ini kepada pembaca semua yang haus akan informasi walaupun banyak kendala yang kami hadapi tapi itu semua tidak membuat kami untuk menyerah begitu saja.

Dalam edisi buletin kali ini, kami akan mengulas sebuah fenomena yang sangat ironis bagi kita semua untuk mendalami secara mendalam. Sebuah sistem dari jaringan yang ’sesat’ Al-Qiyadah telah memasuki urgensi kehidupan dalam masyarakat bahkan intelektual muda yang berkecimpung di dunia pendidikan tak luput dari mangsanya.

Beberapa kampus di Jogja mulai dimasuki aliran ini. Tak luput Pula UAD yang notabene merupakan kampus Islami yang menerapkan syariat islam dalam kehidupan di lingkungannya  ikut terpengaruh. Siapakah yang menjadi terdakwa dan hakim dalam problem ini? Ada apa yang salah dengan sistem dalam dunia civitas akademika di UAD?

Namun, yang lebih ironisnya reaksi masyarakat yang mudah sekali terpancing kekerasan yang justru berakibat fatal bagi citra Islam sendiri. Pemahaman yang parsial sering mengklaim ’diri’ kita yang paling benar dan mengukuhkan Islam secara eklusif. Berhakkah kita menyandangkan ’sesat’ kepada sesama manusia. Jangan-jangan sebaliknya? Bukannya ragu dengan keyakinan dan keimanan yang kita anut. Tapi klaim menyalahkan adalah kejahatan kemanusiaan yang menafikan nilai-nilai kasih sayang (cinta) sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan. Kedamaian, Kebersahajaan dan berbuat baik (bergaul) dengan yang lain (the other) adalah ajaran agama yang tidak dilepas begitu saja. Berhubungan secara vertikal (beribadah) dan secara horisontal (berlaku sosial kepada sesama manusia).

Ini merupakan tugas kita semua dalam menyikapi masalah ini sehingga kampus Islami benar-benar terwujud dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam dan Rasullullah SAW merupakan suri tauladan bagi semua umat Islam di seluruh dunia. Maka keberadaan kita sebagai orang pendidik harus bisa menghindari itu semua. Kita harus bahu-membahu menangani problem ini dengan hati dan nurani yang sehat.

Kita semua memerlukan pemahaman mendalam dan selalu waspada, serta berani bergerak dalam bertindak. Bukannya justru ikut menjadi hakim, tapi ini dijadikan bahan reflektif untuk kemajuan Islam dan kampus kita, sebagaimana otokritik. Akhirnya, kami haturkan kepada teman-teman sekalian bulletin yang sempat tertunda ini. Selamat membaca.

catatan ke 21

Filed under: catatan redaksi — penaonline @ 5:18 am

                                    Senat Memilih, Pusat Tentukan?

 

Entah dari mana kami harus memulainya. Keterlambatan penerbitan yang molor seminggu ini sudah cukup menjadi beban tersendiri bagi kami. Sampai-sampai dalam tubuh keredaksian pun mengalami frustasi dan terjerembab dalam “ideologi-ideologi pragmatisnya”. Sudah banyak ungkapan tentang keampuhan pena sebagai alat utama revolusi, dan kami pun menyakini sepenuh hati dan kesadaran akan ungkapan itu. Akan tetapi menjadikannya benar-benar sebagai alat yang ampuh untuk revolusi sungguh merupakan tugas yang cukup berat sebagai “Tentara Pena”. Namun semua itu sudahlah menjadi tugas dan tanggung jawab kami yang harus diutamakan, demi kemaslahatan almamater bersama.

Pembaca yang setia, dalam edisi 21 ini POROS mencoba menurunkan laporan terbaiknya. Menyoroti tentang pernik prosesi pilrek periode 2007-2011. Lucky Number 25 yang dimiliki Kasiyarno bisa saja tersandung oleh sebuah “penolakan restu” yang di mandatkan oleh pusat. Senat memilih, namun pusatlah dalam finishing-nya.

Namun, siapa pun itu, sebagai seseorang yang “terpilih” dan “terbaik” diantara yang baik, hendaklah menjadikan semua elemen yang ada dapat disenergiskan menjadi lebih baik. Untuk itu banyak proses yang yang harus dilalui. Pelayanan, kinerja dan profesionalitas profesinya.

Lewat media yang sangat sederhana inilah kami selalu mencoba menabur harap, semoga POROS tetap menjadi wadah demokrasi guna menjembatani seluruh aspirasi yang ada. Salam.

Next Page »

Blog at WordPress.com.