pena poros online

23 December 2007

Rektor Jadi Imam Sholat

Filed under: suara mahasiswa — poros pena online @ 5:59 am

Rektor Jadi Imam Sholat 

Saya pernah ikut kuliah seorang teman di Ama Stikes surya Global Yogyakarta. Di sana saya mendapatkan hal yang sangat mengesankan hati, yakni Rektornya menjadi imam sholat dhuhur di masjid kampus. Saya langsung membayangkan seandainya di UAD ada kegiatan serupa, dipastikan tak ada Wakil Rektor, dekan, dan dosen yang tidak sholat berjamaah bersama beliau. Hubungan antara seorang pemimpin dengan karyawan-karyawanya pun semakin erat. Rektor sebagai sosok pemimpin di kampus, mampu memberikan teladan pada karyawan dan mahsiswanya. Harapan saya adalah rektor kita mencontoh kegiatan positif tersebut.

(Renie, mahasiswi semester III PBI/FKIP)

 

catatan ke 23

Filed under: catatan redaksi — poros pena online @ 5:57 am

Sungguh Ironi

Alhamdulillah, hanya lafadz suci itulah yang patut kami panjatkan atas kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kekuatan kepada kami sehingga di penghujung akhir tahun ini kami masih bisa berkreasi dengan perjuangan tinta pena untuk menerbitkan buletin ini kepada pembaca semua yang haus akan informasi walaupun banyak kendala yang kami hadapi tapi itu semua tidak membuat kami untuk menyerah begitu saja.

Dalam edisi buletin kali ini, kami akan mengulas sebuah fenomena yang sangat ironis bagi kita semua untuk mendalami secara mendalam. Sebuah sistem dari jaringan yang ’sesat’ Al-Qiyadah telah memasuki urgensi kehidupan dalam masyarakat bahkan intelektual muda yang berkecimpung di dunia pendidikan tak luput dari mangsanya.

Beberapa kampus di Jogja mulai dimasuki aliran ini. Tak luput Pula UAD yang notabene merupakan kampus Islami yang menerapkan syariat islam dalam kehidupan di lingkungannya  ikut terpengaruh. Siapakah yang menjadi terdakwa dan hakim dalam problem ini? Ada apa yang salah dengan sistem dalam dunia civitas akademika di UAD?

Namun, yang lebih ironisnya reaksi masyarakat yang mudah sekali terpancing kekerasan yang justru berakibat fatal bagi citra Islam sendiri. Pemahaman yang parsial sering mengklaim ’diri’ kita yang paling benar dan mengukuhkan Islam secara eklusif. Berhakkah kita menyandangkan ’sesat’ kepada sesama manusia. Jangan-jangan sebaliknya? Bukannya ragu dengan keyakinan dan keimanan yang kita anut. Tapi klaim menyalahkan adalah kejahatan kemanusiaan yang menafikan nilai-nilai kasih sayang (cinta) sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan. Kedamaian, Kebersahajaan dan berbuat baik (bergaul) dengan yang lain (the other) adalah ajaran agama yang tidak dilepas begitu saja. Berhubungan secara vertikal (beribadah) dan secara horisontal (berlaku sosial kepada sesama manusia).

Ini merupakan tugas kita semua dalam menyikapi masalah ini sehingga kampus Islami benar-benar terwujud dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam dan Rasullullah SAW merupakan suri tauladan bagi semua umat Islam di seluruh dunia. Maka keberadaan kita sebagai orang pendidik harus bisa menghindari itu semua. Kita harus bahu-membahu menangani problem ini dengan hati dan nurani yang sehat.

Kita semua memerlukan pemahaman mendalam dan selalu waspada, serta berani bergerak dalam bertindak. Bukannya justru ikut menjadi hakim, tapi ini dijadikan bahan reflektif untuk kemajuan Islam dan kampus kita, sebagaimana otokritik. Akhirnya, kami haturkan kepada teman-teman sekalian bulletin yang sempat tertunda ini. Selamat membaca.

Penanganan Aliran Sesat

Filed under: opini bulletin poros — poros pena online @ 5:56 am

Penanganan Aliran Sesat

Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa tanda-tanda hari akhir adalah bermunculannya aliran yang telah dianggap sesat yang telah menggemparkan masyarakat dan menimbulkan ketakutan yang merajalela. Lalu bagaimana penangganannya yang seharusnya dilakukan oleh seluruh pihak baik pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), masyarakat.

Sudah tepatkah penangganannya dan efektifkah penanganannya saat ini? Lia Eden dengan aliran Al-Quran Suci, Mushaddeq dengan aliran Al-Qiyadah, dan yang lainnya. Melihat persoalan ini MUI telah mengeluarkan fatwa sesat. Sehingga harus dihukum seperti halnya kasus Lia Eden yang diputus bersalah dan dihukum pidana, tetapi apakah itu menyadarkan dia? Tidak berarti penanganan dari pemeritah tidak efektif.

Dengan dilakukannya pembinaan-pembinaan yang sistematis dan memiliki kejelasan tujuan mungkin justru lebih baik, dibandingkan mengeluarka fatwa sesat yang hanya menggemparkan masyarakat tetapi terkesan dipaksakan dan ditambah dengan reaksi akan fatwa tersebut, yakni tindakan anarkis kepada mereka. Ini adalah tauladan buruk yang sekaligus menggambarkan mental masyarakat yang sakit dan secara tak langsung membenarkan bahwa Islam agama yang penuh kekerasan.

Penanganan MUI dalam hal ini harus melakukan pembinaan-pembinaan yang sistematis dan juga berkepanjangan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah berdialog untuk menyangkal semua yang diajarkan oleh aliran sesat sampai mereka pun mulai ragu dengan ajaran mereka. Tentu ini bisa dilakukan karena Islam memang dinul haq bukan? kemudian lakukan rehabilitasi kepada mereka tunjukkan rasa kepedulian yang sangat, bukan rasa benci yang justru akan menjauhkan mereka dari dialog.

Selanjutnya, taubatkan mereka dengan menunjukkan rasa cinta kasih yang tulus sehingga Islam kembali pada ruhnya yaitu agama cinta kasih. Kemudian mengawasi (baca: dampingi.-red) mereka dengan jalan kekeluargaan. Cara ini adalah cara efektif untuk mengawasi mereka sekaligus mempererat tali silaturahmi, terlebih lagi beri mereka sentuhan hati dengan tauladan Islam yang merupakan agama tuhan.

Semua itu akan efektif dengan kerjasama seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah tidak hanya menghukum, tetapi memfasilitasi MUI dan aliran-aliran tersebut untuk berkomunikasi tentu dengan pengawasan yang obyektif dari pemerintah tanpa memihak. Dengan dilandasi toleransi, serta kepedulian akan kedamaian yang hakiki, MUI jelas harus melaksanakan hal di atas seperti dialog, rehabilitasi, pengawasan serta kasih sayang.

Masyarakat hendaknya menyadari bahwa mereka juga merupakan anggota masyarakat. Oleh karena itu, tunjukan tauladan kepada mereka sebagai sikap yang terbaik, tidak justru menebarkan terror kepada mereka, menghancurkan rumah, dan menganiaya mereka. Hal ini sangat ironi terjadi dalam masyarakat yang sangat religius. Lalu dimana sisi religious yang mereka bangga-banggakan dan mereka junjung tinggi. Ini semua perlu penangganan yang tidak hanya niatan tetapi haruslah menjadi tindakan yang dilandaskan pada nilai-nilai keislaman yqng hakiki yang tidak mengarah pada kekerasan dan teror atas nama Agama (baca: Tuhan). IDRW

Next Page »

Blog at WordPress.com.