Menengok Sekitar Kalicode

Keadaan disekitar kalicod RT.32

Keadaan disekitar kalicod RT.32

Yogyakarta, (POROS). BEM-F Farmasi Universias Ahmad Dahlan divisi PDF  (pharmacy discussion forum) mendatangi kawasan disekitar kalicode pada minggu, 30 November 2014. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hari pangan sedunia.” hari pangan ini yang menginisiasi kami untuk memberikan pangan kepada masyarakat yang memerlukan, sekaligus ingin memberikan aksi kepada masyarakat” tutur Farida selaku penanggungjawab PDF.

Farida juga menyatakan “pada awalnya acara ini akan dilaksanakan di desa binaan BEM-F Farmasi yang bertempat di Gunung kidul, desa Tepus”. Ia juga menyatakan kendalanya terletak pada jarak yang jauh akan menyulitkan panitia untuk membawa alat bawaan. “Kegiatan ini dilaksanakan setelah Humas PDF meminta izin kepada kelurahan kalicode di kawasan sekitarnya, tepatnya  RT.32,” Imbuhnya.

Kasbullah Hadri selaku wakil BEM-F Farmasi memaparkan bahwa ada suatu kebanggaan bagi panitia karena dapat bertemu langsung dengan warga kalicode. Kegiatan ini terdiri dari 3 pokok acara, diantaranya; kegiatan bersih-bersih sungai, penyuluhan, dan pembagian sembako. Dalam acara yang pertama, membersihkan kawasan sekitar kalicode mendapatkan kendala karena kondisi hujan, sehingga tidak memungkinkan dilangsungkannya kegiatan tersebut.

“warga disini bingung jika ingin membuang sampah, kalau tempat sampahnya sudah penuh gak tahu mau dibuang kemana lagi” ungkap sri, warga kawasan kalicode. Sri juga mengatakan bahwa ada petugas yang datang meminta iuran untuk kebersihan, tetapi justru tidak ada timbal baliknya, pasalnya masih banyak tumpukan sampah didepan rumah beberapa warga kalicode sehingga berkesan seperti komplek yang kotor, terlebih kondisi gerimis yang menambah becek gang di jalanan. “kalau kerja bakti sih ada, biasanya pada hari minggu tapi ya nggak rutin.” tambah Sri.

Tidak terlaksanakannya acara yang pertama menyebabkan kegiatan beralih ke acara yang berikutnya yaitu penyuluhan tentang kesehatan yang disampaikan Tri Wahyuni Sukesi, Dosen kesehatan Masyarakat yang menyampaikan tentang kesehatan, penyebab-penyebab penyakit terutama penyakit yang disebabkan oleh lingkungan dan makanan. Keantusiasan warga untuk mengikuti kegiatan ini dapat dikatakan sangat tinggi karena tidak sedikit warga yang datang. ”antusias warga tinggi untuk menghadiri penyuluhan tentang kesehatan” ungkap Faisal selaku ketua panitia

saat pembagian sembako oleh panitia

saat pembagian sembako oleh panitia

Keantusiasan warga pula terlihat disaat pengambilan sembako yang dibagikan oleh panitia Sri (50) juga mengatakan bahwa dia merasa senang karena kedatangan mahasiswa dari UAD, seorang ibu yang tinggal sendiri itu merasa ada yang memperhatikan nasibnya dan warga lainnya, terlebih saat ia mengetahui akan dibagikan sembako diakhir acara karena dapat membantu dia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya sri yang merasakan hal demikian, tetapi juga warga lain yang pekerjaan hari-harinya sebagai tukang parkir dan berjualan makanan.

Harapan panitia bersama, kegiatan seperti ini dapat dilakukan di hari-hari berikutnya, terutama di hari-hari besar seperti hari kesehatan nasional, hari bumi, hari pangan dan sebagainya. Selain untuk menjalankan program kerja dari divisi PDF  BEM-F Farmasi juga dapat membantu orang-orang yang seharusnya memang mendapatkan perhatian.(Noni)

Suara Dari Dalam Pasar Sentul

(26/11) Wagiyem dan pedagang lainnya sedang menunggu pembeli ditengah sepinya pasar

(26/11) Wagiyem (kiri) dan pedagang lainnya sedang menunggu pembeli ditengah sepinya pasar.

“ya. Kalau bisa ya mbak jangan naik 2000 lah, naik 1000 saja sudah banyak kok,” ungkap Wagiyem (53) warga Piyungan, Bantul. Ia keberatan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Tak banyak yang ia minta, hanya minta tentram dan damai ujarnya. Meski dagangannya selalu sepi Wagiyem tetap kekeh dagang sayuran di pasar sentul. Ia tidak ingin pindah dagang di tempat lain, baginya berdagang di satu tempat saja sudah bersyukur. Tidak hanya alasan kenaikan BBM yang membuat sepi pembeli, berdirinya pasar modern dengan jarak  kurang lebih 200 meter pasar tradisional sentul pun menjadi penyebabnya.

Wagiyem dan pedagang lainnya tentu merasakan hal yang sama. “Di sana kan adem mbak, orang-orang kaya ya seneng,” sambil menata sayurnya Wagiyem menggrutu pelan. Pasar sentul adalah salah satu pasar yang berdiri di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Gunung Ketur, Kecamatan Pakualaman, Yogyakarta. Pasar tradisional ini buka pada pukul 03.00 pagi hingga sore hari. Wagiyem biasanya datang pada pukul 08.00 pagi. Hamparan kulit jagung yang baru saja dikupas dari buahnya berserakan di sudut kanan tempat parkir motor. Pukul 09.00 tepatnya pasar sentul sudah terlihat sepi jarang pembeli. Lorong-lorong pasar dan pedagang yang berjualan saling berhadap-hadapan hanya saling bercengkrama sambil menunggu pembeli datang. Seketika langkah ini memasuki lorong demi lorong, nyaris semua pedagang menyapa dan menawarkan dagangannya, berharap dagangannya ada yang membeli.

Lirikan mata tertuju pada tumpukan cabai segar. Segera Wagiyem mengenakan jilbabnya seketika aku datang. “Cabai sekilo 60 ribu mbak gak bisa kalau beli cuma 1000,” tanggap Wagiyem ketika aku membeli cabai itu. Sambil memegangi kain jarik untuk alas duduknya Wagiyem lirih menumpahkan keluhnya. Raut wajahnya yang kusut dengan mata sayup Wagiyem menunjuk terong yang belum lagi laku terbeli dari pukul 08.00 pagi. “ya. Kalau untung gak nentu. Terkadang pulang Cuma bawa beras sama oleh-oleh cucu,” senyum Wagiyem kepadaku. Ibu empat anak ini memiliki suami yang hanya sebagai buruh bangunan. Tampak telah lama Wagiyem tidak mengungkapkan keresahannya ia terus melanjutkan cerita. “kesana (piyungan-red) 8500 kesini (pasar sentul-red) 8500 sudah 17000 mbak saya buat bensin saja, untung dagang gak seberapa,” sambil tetap memegangi jariknya Wagiyem lirih berkata. Bagi seorang Wagiyem siapapun presidennnya yang penting tentrem ayem. Saat aku mengingatkan saat pemilu Wagiyem justru ringan menjawab, “Pilih satunya mbak, gak tau juga disuruh pak lurah begitu.”

Ditengah perbincangan itu tiba-tiba datang seorang perempuan yang membeli cabai. Segera Wagiyem memasukan cabai kedalam plastik dan menimbangnya. Setelah itu ia melanjutkan kisahnya. Tak kehabisan akal, jika sore menjelang sebelum ia pulang ke rumah Wagiyem menukarkan sayurannya kepada pedagang nasi rames untuk menukarkannya dengan sebungkus lauk sebagai kawan makannya sekeluarga. ”Kalau cabai gak saya tukar busuk ya tidak apa-apa wong mahal kok”. Tak ada penghasilan Wagiyem selain berdagang dan buruh tani di desa. Bantuan yang baru saja diluncurkan rezim Jokowi-Jk berupa kartu sakti belum lagi di tangannya. Sebelumnya pun Wagiyem mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun. “yang punya mobil, rumah, guru ya dapat tetangga saya”. Hal yang sama dikatakan oleh Sugiyem (52) pedagang buah. Warga bantul ini telah berdagang lebih dari 30 tahun.

Sejak 1975, berawal menjual buah hasil tanam sendiri di rumah sugiyem menyewa lapak 2×3 meter. Ia membayar setiap harinya Rp.1500, biaya keamanan perbulan Rp.5000 dan paguyuban sebesar Rp.1000. sejak BBM naik Sugiyem mengakui perjalanannya bolak-balik dari rumah ke pasar menghabiskan sehari sebesar Rp.25000. “Biasanya Cuma habis 10-15 ribu aja”. Dulu saya jual jambu dari hasil di rumah sama pisang susu juga,” sambil mengayuh tangannya Sugiyem mengusir lalat yang hinggap di buah dagangannya. Kedatangan ku disambut baik oleh Sugiyem, ia memberiku bangku kecil dari kayu untuk aku duduk bersamanya. Dengan lapak yang terletak di pojok pasar, buahnya jelas cepat busuk. Tempat yang gelap membuat Sugiyem tidak urung pindah di tempat lain, “jualan disini saja, mau dimana lagi.” Sambil memutarkan bola matanya Sugiyem mencoba mengingat-ingat berapa keuntungannya dalam sehari.

Sugiyem memiliki tiga anak laki-laki yang masing-masing telah bekerja setelah lulus dari SMK. Ia mengakui keuntungan yang diperoleh tidak menentu, ia hanya bisa berharap dari sawah miliknya di desa untuk makan sehari-hari. “BBM naik, penghasilan tidak sama dengan pengeluarannya mbak. Untuk makan sehari-hari mahal.” Sugiyem melanjutkan, berdagang buah tidak bisa disimpan lama jika buahnya sudah busuk Sugiyem kerap membuangnya begitu saja. Ia menganggap kalau sudah busuk orang desa pun tidak mau beli.

Banyak mahasiswa dan buruh turun aksi menuntut diturunkannya harga BBM. “yo karepe ngewangi wong cilik kok yo sing dhuwur kie ra ngerunguke, (ya maunya membantu rakyat kecil, tapi ya orang atas tidak mendengarkan–red),” sambil tersenyum sugiyem berkata seolah ia teringat anaknya yang juga buruh. Hal yang serupa dikatakan wagiyem pula, “yang penting tentrem ayem, asal sudah demo terus turun BBM-nya ya gak apa-apa”. Mata ku tertuju pada lantai dua pasar sentul setelah puas bercengkrama dengan Sugiyem.

Langkah ku terhenti ketika melihat petugas tertidur lelap dikursi panjang dalam kantor. Aku mengendap masuk mencoba membangunkannya, usaha ku sia-sia, si petugas tidak mendengar suara ku. Lalu aku menuju ke arah kanan kantor terdapat bilik kecil yang di luarnya tampak pakaian yang bergantungan. Mungkin saja itu ruangan ganti. Sekali lagi aku memanggil si petugas, Ponijo (38) namanya. Seketika ia bangun lalu mempersilahkan aku duduk dan menanyakan tujuan ku masuk ke dalam kantornya. Ponijo dengan mata merahnya mengalihkan ke pak lurah yang biasanya sudah ada di kantor. Saat itu sang lurah ternyata belum lagi berada di ruangannya. “setelah BBM naik, sejauh ini belum ada rapat untuk menanggapi kenaikan retribusi juga mbak,” ujarnya sambil merapikan rambut yang tak beraturan. “Dari dulu ya pasar begini-begini aja sepi terus”.

Saat aku tertuju pada papan rapat yang ada di sana ia menyergap menyatakan bahwa duduk saja di kantor jika tidak ada kerjaan. “ambil retribusi ya ada yang setiap hari ada juga bulanan, kalau tidak ada yang ingin perpanjangan kartu pasar ya begini-begini saja disini.” Ponijo telah tiga tahun lamanya berjaga di Sentul, sebelumya ia ditugaskan ke Beringharjo. Sambil meneruskan langkah ku menuju keluar pasar aku teringat lagu Iwan Fals-Manusia Setengah Dewa. “wahai presiden kami yang baru, kamu harus dengar suara ini. Suara yang keluar dari dalam gua”. Tak terasa perjalanan ku di dalam pasar sentul ditutup dengan suara adzan dzuhur serta wanita paruh baya yang tertidur di atas tumpukan jagung muda. (Evelin)

Teater JAB suguhkan pementasan ‘SOFA TUA’

(22/11) Sepasang kekasih sedang berbincang  dirumahnya.

(22/11) Sepasang kekasih sedang berbincang dirumahnya.

Yogyakarta, (POROS). Dalam rangka memajukan karya sastra, Teater JAB menggelar pentas produksinya pada (22/11) di Auditorium kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD), berjudul SOFA TUA dengan karya Badron NS dan bertema “Akar cinta di keabadian yang istimewa”. Tokoh utama dalam cerita ini berasal dari anggotanya yang semester ‘bawah’ sebagai wujud pembekalan. “Kita benar-benar membekali dengan anak-anak baru, terutama bagi angkatan 2013 kemarin,” ungkap Cahyo Adi Pramono selaku pimpinan produksi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Omah Teater Jogja (OM TEJO) dan organisasi internal UAD lainnya seperti HMPS dan IMM UAD serta alumni Teater JAB dari angkatan 2003 hingga 2008. Pementasan yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut menceritakan tentang sepasang kekasih yang tetap setia dan harmonis hingga masa tuanya, meskipun mereka tidak memiliki anak. Akar cinta di keabadian yang istimewa sendiri diambil dari filosofi keistimewaan yogyakarta.” Untuk akar yang istimewa itu kita ambil karena Jogjanya. Kita harapkan, mahasiswa UAD Program Bahasa dan Sastra Indonesia tetap memiliki akar-akar penerus, yang selanjutnya bisa meneruskan keistimewaan yogyakarta”, jelas Cahyo.

Tujuan diadakannya pentas teater ini adalah untuk mempererat rasa kekeluargaan dalam Teater JAB dan menjalin silaturahmi antar komunitas teater yang ada di Yogyakarta serta memperjuangkan karya sastra. “Acara ini tidak hanya pementasan saja, melainkan untuk memperjuangkan karya sastra seni dan budaya, terutama di Jogja, dan lingkup mahasiswa UAD “, tambah Cahyo.

Mengenai pentas tersebut Iqbal berharap bahwa untuk regenerasi pertunjukan teater tetap akan berjalan tidak hanya teater JAB, 42, dan Pebei. “saya kira ya seperti itu, toh nanti waktu yang menentukan. Permasalahan pencapaian tadi, kembali lagi bahwa setiap generasi tidak pernah melahirkan generasi yang sama, bisa lebih baik atau bisa lebih hancur”, jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Cahyo, untuk harapan tahun depan teater JAB lebih maju lagi menciptakan karyanya yang lebih bernilai dan bermoral. ” Janganlah menjadi lentera dipagi hari, karena lentera dipagi hari akan sirna dengan matahari yang ada”, tambahnya. (Gilang|ilham)

AJI Ingatkan Aparat kepolisian Tentang UU Pers

(7/11) Sejumlah jurnalis yang tergabung di AJI menuntut polisi segera menyelesaikan kasus yang menimpa wartawan di Makasar.

(7/11) Sejumlah jurnalis yang tergabung di AJI menuntut polisi segera menyelesaikan kasus yang menimpa wartawan di Makassar.

Baca..baca..baca..

Yogyakarta, (POROS). Beberapa wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis independen (AJI) Yogyakarta menggelar Aksi Solidaritas pada jum’at 14 november 2014 di Markas Bribom DIY yang terletak di jalan Baciro Yogyakarta. Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan wartawan yang mengalami tindakan kekerasan dari pihak Polisi dan Bribom akibat meliput demontrasi dari para mahasiswa di Makasar.(red)

Atribut peserta aksi yang bertuliskan tolak kekerasan terhadap jurnalis, pecat polisi-polisi penganiaya jurnalis meramikan suasanya aksi, teriakan hidup jurnalis…. Hidup jurnalis…. Hidup jurnalis , berkumam di depan Markas Bribom DIY.

Satu persatu dari jurnalis pun menyuarakan aspirasinya untuk menuntut polisi bertanggung jawab dan segera menyelesaikan kejadian tersebut, ”Apakah bentuk kekerasan itu suatu bentuk demokrasi,” tegas Anang Zakariya selaku wartawan tempo dalam orasinya.

Hendarawan ketua Aliansi Jurnalistik Independen Yogykarta (AJIYO) dalam orasinya mengatakan polisi yang melakukan tindakan kekerasan tidak patut di contoh. Ia menambahkan seharusnya para penegak keamanan bekerja untuk mengamankan tidak untuk memukuli para wartawan yang sedang bekerja, karena hal tersebut sudah melanggar UU pers, “Kita bekerja dilindungi UU Pers,” tuturnnya saat orasi.

Dalam orasi terkahirnya hedarawan juga mengingatkan kepada jajaran kepolisian dan Bribom untuk memahami dan membaca kembali UU pers no 40 tahun 1999 agar kekerasan terhadap jurnalis tidak terulang kembali, ”Kalau sampai pihak kepolisian tidak tahu, baca..baca..baca.. pahami..pahami isinya,” tegasnya mengakhiri orasi. (Somad)

Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Yogyakarta, Hadirkan Teatrikal

foto utk online

(20/11) Aksi teatrikal Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) di pertigaan kampus UIN Sunan Kalijaga.

Yogyakarta, (POROS). Setelah melakukan dua kali aksi yang berujung bentrok, (20/11) Aliansi Mahasiswa se-DIY menggelar aksi damai di Pertigaan Kampus UIN Sunan Kalijaga Jl.Laksda Adisucipto dengan konsep teatrikal. Teatrikal yang ditampilkan menggambarkan pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya.

Aliansi mahasiswa terdiri dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), SMI (Satria Muda Indonesia), REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), SEKBER (Sekretariat Bersama), FAM-J, PEMBEBASAN, CAKRAWALA, BEM UIN (Badan Eksekutif Mahasiswa UIN) dan FL2MI (Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa).

Mereka menolak kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Penolakan ini tentunya dengan solusi-solusi yang ditawarkan yaitu, negoisasi kontrak karya migas dan nasionalisasi aset-aset asing dibawah kontrol rakyat, berantas mafia migas yang jelas-jelas merugikan rakyat, implementasikan pajak progresif, cabut UU Migas No.22 Tahun 2001 yang meliberalisasikan sektor migas dan laksanakan pasal 33 UUD 1945.

“Aksi ketiga kalinya ini dilakukan sebagai bentuk pentingnya isu nasional ini untuk segera diubah oleh pemerintah,” ujar Latif perwakilan dari HMI cabang UII (Universitas Islam Indonesia). Mereka membagikan selebaran-selebaran kepada massa aksi, awak media dan polisi yang tengah menjaga.

Sebagaimana tertulis dalam selebaran tersebut, kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada sektor industri. Dimana akan memicu kenaikan biaya produksi, sehingga pilihannya adalah menaikkan harga barang hasil produksi atau memangkas upah pekerja. (red)

“Jokowi yang dipilih karena pro rakyat dan suka blusukan, ternyata sekarang malah menyengsarakan rakyat,” begiupun yang disampaikan dalam orasi politik oleh Ahmad Badri perwakilan BEM UIN Sunan Kalijaga.

Pasukan polisi memposisikan diri membentuk pagar dengan perlengkapan yang komplit. Namun hal itu tidak membuat massa aksi terpancing untuk melakukan tindakan anarkis seperti yang dilakukan beberapa hari lalu. Agar tak terprovokasi, lantunan yel-yel pun dinyanyikan, satu komando, satu tujuan.

Pukul 16.40 WIB Masa mengakiri aksi mereka dengan bersama-sama menyanyikan lagu darah juang. Beberapa pasukan polisi pun satu per satu membubarkan diri dari posisi awal. (Lita, Nurul)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.