LOMBA KARIKATUR POROS FESTIVAL 2014

Persyaratan :

a. Mahasiswa aktif Perguruan Tinggi di DIY

b. Karikatur mengacu pada tema yang telah ditentukan oleh panitia

c. Tema karikatur : “Gerakan Golput” atau “Mahasiswa Cerdas Memilih”

d. Karikatur yang dikirim menjadi hak panitia dan hak cipta milik peserta sepenuhnya

e. Karikatur bisa berupa digital atau manual

f.  Karikatur tidak boleh meniru karya orang lain

g. Peserta harus menuliskan makna dari karya karikaturnya

h. Karikatur yang dikumpulkan berupa hardcopy ukuran A4 21 x 30 cm

i.  Paling lambat karya dikumpulkan tanggal 05 Maret 2014 di Sekretariat UKM POROS UAD

Pendaftaran :

a. Pendaftaran dilakukan secara langsung di Sekretariat UKM POROS UAD Jl.Kapas 9 Gedung ITC Semaki Umbulharjo atau dapat mengunduh formulir di sini

c. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 15.000,-

d. Menyerahkan fotocopy KTM

e. Pendaftaran dimulai tanggal 19 sampai 28 Febuari

Hadiah :

Juara 1 : Trophy + Sertifikat + Uang Pembinaan

Juara 2 : Trophy + Sertifikat + Uang Pembinaan

Juara 3 : Trophy + Sertifikat + Uang Pembinaan

Info lebih lanjut :

hub. 082138234057 (Nehru)

atau cek di @porosUAD

catatan-ke 27

Jangan Takut Bersuara Kawan!!!

Media memiliki empat fungsi sebagai edukasi, informasi, rekreasi dan organisasi. Di dalam media juga memiliki kode etik sendiri dan prinsip-prinsip yang harus dijalani. Dalam media pers mahasiswa yang menjadi pedoman adalah Kode Etik Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan 9 element jurnalis yang menjadi pegangan tersendiri. Pers Mahasiswa memiliki kesitimewaan sendiri yang menjadi ciri khasnya yaitu idenpedensi, maksud dari sini Persma memiliki indepedensi dalam menentukan berita sehingga dia tidak bergantung pada pihak manapun. Tidak seperti media lainnya yang tersebar  di Indonesia atau media komersil membutuhkan dana dari para sponsor membuat berita mereka cenderung memberikan citra postif atau negatif untuk menguntungkan suatu pihak. Namun tidak bagi persma! Read the rest of this entry

Catatan ke-26

Salam Mahasiswa!!!

Semester baru sudah dimulai dan POROS memasuki isu-isu baru yang segar tentang permasalahan yang ada di sekitar kampus. Mahasiswa adalah agen perubahan, ditangan mereka-lah nasib negeri ini ke depan dipegang. Mahasiswa adalah pemuda sekaligus generasi penerus yang menjadi bibit masa depan yang akan tumbuh. Belajar adalah tugas pemuda namun proses belajar tidak hanya bisa dilakukan di dalam ruang kelas, belajar bisa dilakukan dimana saja. pengalaman bisa menjadi guru terbaik sebagai pelajaran yang paling efektif.

Awal semester baru memang serba baru, mata kuliah yang baru berbeda dengan mata kuliah sebelumnya, mahasiswa-mahasiswa baru yang menjadi penerus ke depan, serta peraturan presensi baru. Peraturan presensi baru yang berbeda dengan presensi sebelumnya sudah disosialisasikan oleh kaprodi masing-masing melalui dosen pengampu. Peraturan presensi sekarang memiliki perbedaan kontras dengan  peraturan sebelumnya. Tidak sedikit mahasiswa merasa peraturan ini sebagai pengengkang aktivitas di luar kampus. Sebenarnya apa dasarnya pembuatan peraturan presensi saat ini? inilah yang akan dibahas oleh POROS dalam berita utama.

Pada dasarnya demokrasi terdiri dari tiga pilar utama yaitu pemimpin, warga negara dan pers. Jika diibaratkan UAD adalah sebuah negara  maka pihak kampus bisa dianggap sebagai pemimpin dan penguasa, mahasiswa adalah warga negara. Sejatinya peraturan yang baik bisa diterima dan disadari penuh kepentingannya oleh kedua pihak yaitu pemimpin dan warganya. Namun tidak sedikit ada kesalahpahaman disebabkan ketidakmengertian dan kekurangan informasi mengenai sebuah kebijakan dianggap sebuah kewenangan. Untuk itulah adanya Pers, POROS bergerak sebagai jembatan yang menengahi sebuah permasalahan.

Jika ditanya arah gerak POROS sebagai pers itu seperti apa, apakah memihak kampus ataukah mahasiswa sendiri? Poros bersikap netral bukan bearti tidak berpihak namun fungsi pers itu sendiri hanyalah sebagai edukasi, informasi, rekreasi dan kontrol sosial. Siapa yang dipihak oleh POROS? Tentu saja semua warga kampus tanpa terkecuali. Poros hanyalah sebuah medium penyalur aspirasi. Dalam berita ini, redaksi berusaha membuat berita objektif, apa adanya, sesuai dengan realita dan hasil wawancara.

Kritik dan saran serta tanggapan dari penghuni kampus diterima POROS secara terbuka. Salam Mahasiswa!!!

catatan ke-25

Siapa yang benar dan siapa yang salah

Hari ketiga P2K di XT Squere yang dilaksanakan dari tanggal 2-7 september lagi-lagi terdapat permasalahan mengenai p2k tersebut. Masalah yang muncul karena adanya pelanggaran kesepakatan dari pihak xt squere dengan panitia pusat mengenai parkir stiker istimewa. Menurut kepala parkir, kuota tiket istimewa yang disepakati panitia sangat kurang dibanding jumlah panitia.

Pihak XT squere merasa dirugikan karena  terjadi pelanggaran kesepakatan antara panitia pusat dengan pihak parkir, kepala  parkir mengatakan bahwa kuota istimewa yang disepakati berbeda dibandingkan  jumlah panitia yang masuk,. panitia pusat sebelumnya sepakat dengan pihak XT Square bahwa selain 80 stiker istimewa panitia harus membayar karcis parkir sebesar Rp. 1000 satu kali bayar untuk sehari. Namun Informasi mengenai prihal itupun tidak secara formal disosialisasikan  hanya sebatas  ketua panitia fakultas saja. Akibatnya panitia menyalahi solusi yang diberikan oleh kepala  parkir kepada panitia mengenai parkir berbayar sekali untuk sehari.

Lagi-lagi panitia pusat juga memiliki hambatan yaitu tidak adanya  fiksasi dari pantia  fakultas untuk memberikan jumlah kendaraan bermotor, yang seharusnya panitia p2k telah memiliki data jumlah panitia fakultas yang membawa kendaraan,  tetapi ironis memang,  panitia pusat sendiri tidak bisa mendiskripsikan jumlah kendaraan yang dibawa oleh panitia fakultas.

Tidak adanya data yang sesuai mengenai  kuota stiker parkir dengan jumlah kendaraan membuat bingung panitia  fakultas. Ditambah dengan tidak tersosialisasi stiker istimewa  kepada panita fakultas, serta masih ada panitia fakultas yang belum mendapatkan jatah stiker istimewa dan telat pembagiannya. Disayangkan memang, masih adanya kesalahpahaman antara panfak dan panpus  yang semestinya ada kesiapan pengkoordinasian sebelum acara pameran UKM berlangsung.

Pemasalahan ini melihatkan kita bahwa belum adanya ketidakkesiapan panitia p2k, Ditambah keterlambatan pembagian stiker kepada fakultas, dengan alasan belum adanya  laporan fiksasi dari fakultas mengenai jumlah kendaraan panitia. walaupun kendala-kendala itu sedikit  teratasi dengan sistem rooling atau pindah tangan sehingga stiker yang jumlahnya minim dapat dimanfaatkan secara fair.  

seharusnya dampak-dampak yang akan terjadi dikemudian hari  bisa diantisipasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kebingungan diantara panfak dan panpus , sehingga pihak-pihak yang terkait mendapatkan informasi tanpa kerancuan, informasi yang  jelas  dan sosialisasi menyuluruh kepada fakultas-fakultas agar acara dapat berjalan dengan baik.

 

ORGANISASI LEBIH DARI SEKADAR WADAH AKTUALISASI DIRI

Dalam dunia mahasiswa, pro-kontra mengenai keterlibatan mahasiswa dalam organisasi menjadi perdebatan yang hingga saat ini belum menemui titik akhir. Mahasiswa yang fokus kepada bidang akademiknya menganggap bahwa organisasi mahasiswa tidak begitu penting. Di lain pihak, mahasiswa yang begitu bersemangat pada organisasi menganggap bahwa kemampuan akademik saja tidak cukup untuk dijadikan bekal dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Selama ini dalih-dalih yang dikemukakan mahasiswa pro-organisasi dalam perdebatan keterlibatan mahasiswa dalam organisasi hanya berkisar pada, bahwa organisasi merupakan wadah lain untuk pengembangan diri selain akademik. Hal ini tidak salah, namun kurang tepat karena jika organisasi hanya diartikan sebagai tempat pengembangan diri maka organisasi hanya berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri. Tentu saja hal ini mengakibatkan penyempitan makna organisasi.

Dalam hierarki teori kebutuhan Maslow, aktualisasi diri menempati puncak kebutuhan manusia. Artinya secara otomatis manusia akan membutuhkan aktualisasi diri ketika kebutuhan-kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi yaitu 1). kebutuhan biologis 2). kebutuhan  rasa aman 3). kebutuhan akan rasa kasih sayang, dan 4). kebutuhan akan harga diri. Ketika keempat kebutuhan tersebut telah dipenuhi maka manusia akan mencoba meraih kebutuhan selanjutnya yaitu kebutuhan untuk ber-aktualisasi diri. Tentu saja banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa mengaktualisasi diri. Seperti berprestasi dalam bidang akademik, memiliki IP sempurna, atau memiliki peran penting dalam sebuah organisasi.

Nah, jika organisasi diartikan sebagai wadah untuk aktualisasi diri maka makna organisasi hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan individu semata. Sedang sejarah begitu banyak menampilkan betapa besar peran organisasi dalam cita-cita dan perubahan tatanan masyarakat, termasuk membawa Indonesia pada kemerdekaan.

Sarekat Islam (SI) adalah contoh nyata. Awalnya SI bernama Sarekat Dagang Islam (SDI), didirikan oleh H. Samanhudi pedagang batik di solo pada tahun 1905. Tujuan utama SDI adalah untuk membantu para pedagang batik pribumi dari persaingan tidak seimbang dengan pedagang Cina. Saat itu pedagang Cina menguasai pasar karena memiliki modal lebih besar dan mendapat perlindungan pemerintah kolonial. Berkat pengorganisasian para pedagang pribumi oleh SDI, pedagang pribumi mampu bersaing secara seimbang dengan pedagang Cina, bahkan mengungguli. SDI adalah gambaran konkret organisasi yang mampu mengubah tatanan masyarakat dari segi ekonomi.

Contoh lainnya adalah Perhimpunan Indonesia (PI) pada tahun 1925. PI merupakan perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda. Salah satu tokohnya adalah Mohamad Hatta. Kegiatan PI berupa diskusi mengenai masalah kebangsaan dan masalah-masalah lain di Indonesia. Dari PI pula lah ide mengenai nasionalisme dan kemerdekaan dimulai. Virus PI tak hanya berhenti di Belanda. Ide-ide PI mengalir sampai Indonesia pula. Hingga puncaknya lahir lah Sumpah Pemuda. Jika SDI membawa perubahan di bidang ekonomi, PI mampu mengubah tatanan masyarakat di bidang politik.

Selain itu, organisasi juga dapat memberikan dukungan bahkan advokasi bagi anggotanya. Misalnya serikat buruh dan pekerja. Organisasi jenis ini fokus untuk membela anggotanya yang diperlakukan tidak adil seperti gaji yang tidak sesuai kesepakatan, jaminan keselamatan kerja atau perlindungan hukum lainnya. Pekerja dan buruh yang rata-rata memiliki tingkat pendidikan dan kesadaran hukum rendah bisa mendapatkan hak-hak mereka melalui advokasi yang dilakukan oleh organisasinya. Serikat buruh dan pekerja seperti ini menunjukan bahwa dengan kebersamaan, kolektivitas dan pengorganisasian, kita bisa mendapatkan apa yang memang menjadi hak kita.

Tak hanya dalam transformasi sosial saja efek organisasi bisa dirasakan. Dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pun, berorganisasi sangat diperlukan. Sudah menjadi kodrat, bahwa tak ada manusia yang pandai dalam segala hal. Maka pembagian kerja dalam sebuah tim penelitian menurut bidang keahlian masing-masing menjadi sangat diperlukan. Tak hanya pembagian kerja, sosok pemimpin dalam sebuah tim juga sangat diperlukan untuk stabilitas dan menjaga tim agar tetap berjalan sesuai tujuan bersama.

Tak berlebihan jika organisasi bisa membawa perubahan secara cepat dalam setiap sendi kehidupan. Tak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan eksistensi diri saja, dengan berorganisasi kita bisa menghimpun kekuatan individu menjadi kekuatan kolektif yang memiliki daya lebih besar. Maka, berorganisasilah, berserikatlah, dan lakukan perubahan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.