Teater JAB suguhkan pementasan ‘SOFA TUA’

(22/11) Sepasang kekasih sedang berbincang  dirumahnya.

(22/11) Sepasang kekasih sedang berbincang dirumahnya.

Yogyakarta, (POROS). Dalam rangka memajukan karya sastra, Teater JAB menggelar pentas produksinya pada (22/11) di Auditorium kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD), berjudul SOFA TUA dengan karya Badron NS dan bertema “Akar cinta di keabadian yang istimewa”. Tokoh utama dalam cerita ini berasal dari anggotanya yang semester ‘bawah’ sebagai wujud pembekalan. “Kita benar-benar membekali dengan anak-anak baru, terutama bagi angkatan 2013 kemarin,” ungkap Cahyo Adi Pramono selaku pimpinan produksi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Omah Teater Jogja (OM TEJO) dan organisasi internal UAD lainnya seperti HMPS dan IMM UAD serta alumni Teater JAB dari angkatan 2003 hingga 2008. Pementasan yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut menceritakan tentang sepasang kekasih yang tetap setia dan harmonis hingga masa tuanya, meskipun mereka tidak memiliki anak. Akar cinta di keabadian yang istimewa sendiri diambil dari filosofi keistimewaan yogyakarta.” Untuk akar yang istimewa itu kita ambil karena Jogjanya. Kita harapkan, mahasiswa UAD Program Bahasa dan Sastra Indonesia tetap memiliki akar-akar penerus, yang selanjutnya bisa meneruskan keistimewaan yogyakarta”, jelas Cahyo.

Tujuan diadakannya pentas teater ini adalah untuk mempererat rasa kekeluargaan dalam Teater JAB dan menjalin silaturahmi antar komunitas teater yang ada di Yogyakarta serta memperjuangkan karya sastra. “Acara ini tidak hanya pementasan saja, melainkan untuk memperjuangkan karya sastra seni dan budaya, terutama di Jogja, dan lingkup mahasiswa UAD “, tambah Cahyo.

Mengenai pentas tersebut Iqbal berharap bahwa untuk regenerasi pertunjukan teater tetap akan berjalan tidak hanya teater JAB, 42, dan Pebei. “saya kira ya seperti itu, toh nanti waktu yang menentukan. Permasalahan pencapaian tadi, kembali lagi bahwa setiap generasi tidak pernah melahirkan generasi yang sama, bisa lebih baik atau bisa lebih hancur”, jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Cahyo, untuk harapan tahun depan teater JAB lebih maju lagi menciptakan karyanya yang lebih bernilai dan bermoral. ” Janganlah menjadi lentera dipagi hari, karena lentera dipagi hari akan sirna dengan matahari yang ada”, tambahnya. (Gilang|ilham)

AJI Ingatkan Aparat kepolisian Tentang UU Pers

(7/11) Sejumlah jurnalis yang tergabung di AJI menuntut polisi segera menyelesaikan kasus yang menimpa wartawan di Makasar.

(7/11) Sejumlah jurnalis yang tergabung di AJI menuntut polisi segera menyelesaikan kasus yang menimpa wartawan di Makassar.

Baca..baca..baca..

Yogyakarta, (POROS). Beberapa wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis independen (AJI) Yogyakarta menggelar Aksi Solidaritas pada jum’at 14 november 2014 di Markas Bribom DIY yang terletak di jalan Baciro Yogyakarta. Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan wartawan yang mengalami tindakan kekerasan dari pihak Polisi dan Bribom akibat meliput demontrasi dari para mahasiswa di Makasar.(red)

Atribut peserta aksi yang bertuliskan tolak kekerasan terhadap jurnalis, pecat polisi-polisi penganiaya jurnalis meramikan suasanya aksi, teriakan hidup jurnalis…. Hidup jurnalis…. Hidup jurnalis , berkumam di depan Markas Bribom DIY.

Satu persatu dari jurnalis pun menyuarakan aspirasinya untuk menuntut polisi bertanggung jawab dan segera menyelesaikan kejadian tersebut, ”Apakah bentuk kekerasan itu suatu bentuk demokrasi,” tegas Anang Zakariya selaku wartawan tempo dalam orasinya.

Hendarawan ketua Aliansi Jurnalistik Independen Yogykarta (AJIYO) dalam orasinya mengatakan polisi yang melakukan tindakan kekerasan tidak patut di contoh. Ia menambahkan seharusnya para penegak keamanan bekerja untuk mengamankan tidak untuk memukuli para wartawan yang sedang bekerja, karena hal tersebut sudah melanggar UU pers, “Kita bekerja dilindungi UU Pers,” tuturnnya saat orasi.

Dalam orasi terkahirnya hedarawan juga mengingatkan kepada jajaran kepolisian dan Bribom untuk memahami dan membaca kembali UU pers no 40 tahun 1999 agar kekerasan terhadap jurnalis tidak terulang kembali, ”Kalau sampai pihak kepolisian tidak tahu, baca..baca..baca.. pahami..pahami isinya,” tegasnya mengakhiri orasi. (Somad)

Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Yogyakarta, Hadirkan Teatrikal

foto utk online

(20/11) Aksi teatrikal Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) di pertigaan kampus UIN Sunan Kalijaga.

Yogyakarta, (POROS). Setelah melakukan dua kali aksi yang berujung bentrok, (20/11) Aliansi Mahasiswa se-DIY menggelar aksi damai di Pertigaan Kampus UIN Sunan Kalijaga Jl.Laksda Adisucipto dengan konsep teatrikal. Teatrikal yang ditampilkan menggambarkan pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya.

Aliansi mahasiswa terdiri dari LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), SMI (Satria Muda Indonesia), REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), SEKBER (Sekretariat Bersama), FAM-J, PEMBEBASAN, CAKRAWALA, BEM UIN (Badan Eksekutif Mahasiswa UIN) dan FL2MI (Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa).

Mereka menolak kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Penolakan ini tentunya dengan solusi-solusi yang ditawarkan yaitu, negoisasi kontrak karya migas dan nasionalisasi aset-aset asing dibawah kontrol rakyat, berantas mafia migas yang jelas-jelas merugikan rakyat, implementasikan pajak progresif, cabut UU Migas No.22 Tahun 2001 yang meliberalisasikan sektor migas dan laksanakan pasal 33 UUD 1945.

“Aksi ketiga kalinya ini dilakukan sebagai bentuk pentingnya isu nasional ini untuk segera diubah oleh pemerintah,” ujar Latif perwakilan dari HMI cabang UII (Universitas Islam Indonesia). Mereka membagikan selebaran-selebaran kepada massa aksi, awak media dan polisi yang tengah menjaga.

Sebagaimana tertulis dalam selebaran tersebut, kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada sektor industri. Dimana akan memicu kenaikan biaya produksi, sehingga pilihannya adalah menaikkan harga barang hasil produksi atau memangkas upah pekerja. (red)

“Jokowi yang dipilih karena pro rakyat dan suka blusukan, ternyata sekarang malah menyengsarakan rakyat,” begiupun yang disampaikan dalam orasi politik oleh Ahmad Badri perwakilan BEM UIN Sunan Kalijaga.

Pasukan polisi memposisikan diri membentuk pagar dengan perlengkapan yang komplit. Namun hal itu tidak membuat massa aksi terpancing untuk melakukan tindakan anarkis seperti yang dilakukan beberapa hari lalu. Agar tak terprovokasi, lantunan yel-yel pun dinyanyikan, satu komando, satu tujuan.

Pukul 16.40 WIB Masa mengakiri aksi mereka dengan bersama-sama menyanyikan lagu darah juang. Beberapa pasukan polisi pun satu per satu membubarkan diri dari posisi awal. (Lita, Nurul)

Memper(ingat)i Perjuangan Para Pahlawan

20141110_163558

Siswa SMP sedang menaburkan bunga di Taman Makam Pahlawan, Yogyakarta

Yogyakarta (POROS). Sejak Pemerintah menetapkan 10 November sebagai  Hari Pahlawan, beberapa daerah di Indonesia  ramai memperingati hari tersebut. Minggu (10/11) di sudut- sudut kota tampak warga melakukan upacara untuk mengenang para pahlawan. Mereka memperingatinya dengan upacara bendera di sungai, perguruan tinggi, dan Taman Makam Pahlawan (TMP).

Terik matahari disiang hari tidak meluluhkan hati masyarakat untuk tetap meperingati  Hari Pahlawan . Pengunjung memasuki  TMP Negeri yang terletak di kawasan  Kusumananegara Yogyakarta diantaranya orang tua, mahasiswa, serta pelajar dari berbagai sekolah  di Yogyakarta.

Serangkaian kegiatan tersebut seperti melakukan upacara bendera dilanjutkan dengan menaburkan bunga kepada para pahlawan . Wajah sedih tercermin dari  seorang siswa saat ia menaburkan bunga ke salah satu makam para Pahlawan bangsa. “ saya ingin mengenang pahlawan yang memerdekakan bangsa,” ujar Adiana Kalista masih menggunakan seragam sekolahnya.

Selain itu, dengan suara  yang  masih terdayuh  ia  mengungkapkan kalau kita sebagai pemuda dan pemudi bangsa harus meneruskan cita -cita  para pahlawan untuk terus membela dan memajukan bangsa karena itu adalah tugas kita.” kita juga harus bisa menjadi Pahlawan itu sendiri”, terang  Adiana usai menaburkan bunga.

semangat untuk  berhenti menaburkan bunga,Martin salah sah satu pengunjung TMP  sempat tempat terhenyak melihat  makam perwira bangsa,namun sesaat setelah bunga dalam gengamannya habis  ia menuturkan kalau  kita sebagai manusia yang masih merasakan kehidupan harus menghargai  jasa pendahulu kita yang sudah  mempertaruhkan bangsa, “ hargai jasa para pehlawan” ungkap martin dengan kemeja coklat bermotif batik

Ada hal yang membuat Martin prihatin  saat melihat beberapa jiwa  para pejuang  tidak  diketahui  namanya, betapa besar pengorbanan yang tertuang dalam mempertahankan Negara yang berlambangkan garuda ini, “  mereka tetap bagian dari para  pahlawan” terangnya sambil menunggu hujan reda

Ia juga mengatakan Hari Pahlawan bisa juga merupakan moment untuk  mereflesikan diri kita  untuk berbenah serta berharap kepada pemerintah untuk  menjadikan bangsa  yang lebih baik,” harapnnya pembangunan yang memajukan bangsa dan bisa mensejahterakan rakyat, ujar martin sambil meratapi makam para Pahlawan.(Somad)

Aksi Donor Darah 10 November

PMI(Palang Merah Indonesia) Yogyakarta yang memfasilitasi aksi donor darah sedang melakukan pengambilan darah dari mahasiswa/mahasiswi di hall kampus 2 UAD, 10 November 2014.

PMI(Palang Merah Indonesia) Yogyakarta yang memfasilitasi aksi donor darah sedang melakukan pengambilan darah dari mahasiswa/mahasiswi di hall kampus 2 UAD, 10 November 2014.

(10/11 ) BEM FKIP UAD memperingati 10 November “Hari Pahlawan” dengan mengadakan aksi donor darah di hall kampus 2. Aksi donor darah ini diadakan hanya satu hari, yang dimulai jam 8 pagi kemarin dan direncanakan selesai jam 1 sore. Panitia aksi donor darah mengundang PMI (Palang Merah Indonesia) Yogyakarta untuk memfasilitasi kegiatan ini. Sakur ketua panitia kegiatan mengatakan setiap mahasiswa yang ingin mendonorkan darahnya mengisi form pendaftaran terlebih dahulu kemudian setelah menjadi peserta akan diperiksa kelayakannya untuk menjadi pendonor. Setelah itu distribusinya diserahkan kepada PMI.

Panitia menginginkan melalui aksi ini mahasiswa UAD memiliki rasa membagi terhadap sesama, terutama sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Ketika zaman dulu menjadi seorang pahlawan dengan berperang melawan penjajah untuk mempertahankan merah putih, sekarang zaman telah berubah dan generasi penerus bangsa bisa membangkitkan rasa kepahlawanan melalui aksi donor darah ini. Tidak lain adalah untuk membagi kepada sesama terutama untuk yang memerlukannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Sakur yang mengatakan bahwa ini menunjukan sikap kita sebagai generasi penerus bangsa.

mahasiswa saat mengisi formulir pendaftaran aksi donor darah di hall kampus 2 UAD, 10 November 2014.

Mahasiswa saat mengisi formulir pendaftaran aksi donor darah di hall kampus 2 UAD, 10 November 2014.

Meskipun diadakan hanya di kampus 2, Sakur mengatakan setiap mahasiswa dari kampus UAD yang lain pun bisa berpartisipasi dalam aksi ini. “Oh itu boleh-boleh saja mbk”, tegasnya ketika ditanya terkait hal ini. Sakur mengatakan aksi ini hanya di kampus 2 karena ada keterbatasan media untuk melaksanakannya. Pelaksanaan aksi donor darah ini disertai dengan hiburan dari kawan-kawan BEM FKIP yang melantunkan lagu demi lagu untuk mahasiswa yang mendonor dan mahasiswa yang ikut menyaksikan keberlangsungan aksi ini. Di hall pun disediakan tikar untuk setiap mahasiswa yang ingin berpartisipasi meskipun tidak ikut mendonor. (Fara)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.